Volume 2 No 3 (2008)

Ordinary + Ordinary

Dyah Ayuningtyas


Manusia mempunyai kehidupan dan melakukan kegiatan untuk mengisi hidupnya tersebut. Kegiatan tersebut ada yang dilakukan sehari-hari maupun pada saat-saat tertentu. Dalam keseharian itu, muncullah sebuah kebiasaan, yang sering dan rutin dilakukan oleh orang tersebut. Keseharian itulah yang disebut everyday. Arsitektur merupakan ilmu yang mempelajari ruang agar dapat digunakan oleh manusia sehari-hari. Manusia yang berkegiatan tersebut memerlukan ruang untuk bergerak, melakukan kegiatannya. Ruang tersebut sudah tersedia di dunia ini dan tanpa disadari oleh manusia sudah digunakan sehari-hari. Oleh karena itu, arsitektur sangat memperhatikan kegiatan dan polah gerak manusia.

Everyday adalah keseharian, sesuatu yang ditemukan tiap hari oleh manusia. Everyday mempunyai sifat rutin dirasakan, misalnya terlihat, teraba, terasa, tercium dan yang dialami oleh panca indera kita. Sesuatu yang dirasakan sehari-hari menjadi sesuatu yang biasa, umum, dan normal. Kegiatan, kejadian yang dirasakan manusia sehari-hari dapat menjadikan hal-hal tersebut ordinary.

Architecture may be ordinary -or rather, conventional- in two ways: in how it is constructed or in how it is seen, that is, in its process or in its symbolism…” (Venturi & Brown, 2000: 128). Arsitektur dapat menjadi sesuatu yang biasa, umum jika dilihat melalui sudut pandang yang berbeda oleh tiap manusia. Dan seorang arsitek selalu mengembangkan kemampuannya dalam mendesain sehingga hasilnya tidak umum. Namun kreasi dari arsitek terbatas, seperti yang dijelaskan oleh Venturi berikut, ”Architecture for the long run requires creation, rather than adaptation, and response to advanced technology and sophisticated organization. It depends on sound research that may perhaps be promoted in the architect’s office but should be financed outside it, because the client’s fee is not adequate for and not intended for that purpose”(Venturi & Brown, 2000: 129).

Dalam hal ini, klien menjadi penyumbang ide desain dan klienlah yang memegang uang sehingga arsitek harus menuruti perkataan klien sehingga desain kemungkinan menjadi biasa, ordinary, karena menuruti selera pasar Untuk itu, arsitek harus memiliki jiwa besar hati, rendah hati untuk menerima masukan dari orang lain walaupun ia tidak mengeluarkan kreasi sepenuhnya.

Ciri-ciri dari ordinary adalah sesuatu yang umum, biasa dialami oleh manusia. Sesuatu yang ordinary bisa juga muncul karena menggunakan apa yang pernah ada sebelumnya. Ciri lainnya adalah hal tersebut sudah banyak di masyarakat, sudah dipunyai oleh semua orang sehingga mereka tidak merasa asing lagi dengan hal itu. Sebuah bangunan ataupun suatu benda dirasakan not ordinary saat dia bentuknya sederhana, tidak sulit. Benda yang meskipun tidak sederhana namun berwujud sama dengan benda sejenis lainnya di suatu tempat ataupun di suatu waktu, maka dapat menjadi ordinary.

Lalu muncul keadaan dimana sesuatu yang ordinary menjadi not ordinary. Sebelumnya, ordinary mengalami berbagai tindakan. Saat kita membalikkan keadaan dan kondisi dari sesuatu yang ordinary maka kemungkinan besar menjadi not ordinary. Sesuatu yang umum jika tidak sederhana lagi, tidak banyak ada di mayarakat lagi, akan menjadi sesuatu yang rumit dan langka. Efek yang diberikan dari pembalikan kondisi sesuatu yang ordinary di antaranya menjadi hal yang rumit, langka, aneh dan menarik. Lalu apakah benar sesuatu yang dibalik atau diinversi dari sesuatu yang ordinary menjadi not ordinary? Apakah mungkin tetap menjadi ordinary

Terkadang ada saja kondisi dimana kita sebagai manusia kehilangan suatu barang dan tidak bisa mencarinya kemana-mana. Sebuah sandal, yang selalu saya pakai saat berjalan di kos, mendadak hilang sebelah. Yang tersisa hanyalah sebuah sandal sebelah kiri dari sepasang sandal biru saya. Dalam kepanikan saya tersebut, saya mencari wujud sebelah sandal saya yang hilang ke seluruh kosan. Saat sudah hampir lelah mencari, saya menemukan sepasang sandal jepit lainnya yang jarang dipakai di kawasan kosan ini. Lalu saya menanyakan apakah sandal tersebut masih dipakai oleh pemiliknya atau tidak. Kemudian pemiliknya tersebut menjelaskan bahwa sandal itu memang jarang dipakai. Dengan senang hati, saya mengutarakan maksud saya untuk meminjam sebelah sandal itu untuk saya pakai sementara waktu ini. Akhirnya saya memadukan sebelah kiri dari sandal jepit saya dengan sandal sebelah kanan dari sandal jepitnya orang itu.

Pada awalnya,saya mempunyai sesuatu yang sangat umum dipakai orang, sesuatu yang sederhana, banyak dipunyai orang lain dan sangat biasa, yaitu sandal jepit berlabel swallow. Benda tersebut adalah benda ordinary bagi orang Indonesia. Saat satu bagian dari benda ordinary itu hilang, dengan mudah kita dapat menemukan bagian yang sama di Indonesia ini. Penyebabnya adalah karena sandal jepit menjadi benda yang sangat umum dan biasa digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai alas kaki di saat bersantai serta tidak dipakai dalam keadaan formal. Rata-rata semua rumah mempunyai sandal jepit seperti ini. Dengan mempertimbangkan keadaan itu, maka dengan mudah sandal jepit itu bertemu dengan bagian yang hilang, atau sebuah bagian dari sesuatu yang ordinary dapat menemukan spare-part nya.

Namun bagaimana saat ada keinginan memadukan sebagian dari sebuah benda ordinary dengan sebagian dari sebuah benda yang ordinary lainnya? Ketidaksengajaan menjadi sebuah kesengajaan saat saya kehilangan sebelah dari sandal jepit saya dan menemukan sebelah sandal jepit yang lainnya. Kesengajaan tersebut terlihat saat saya tahu bahwa sandal jepit yang akan saya pinjam tidak sama dengan sandal jepit yang lama. Warnanya yang kuning sangat berbeda dengan sandal saya yang berwarna biru. Ukurannya juga ternyata lebih kecil daripada sandal saya. Lebih sengaja lagi saat saya sadar bahwa sandal jepit kuning itu berinisial nama orang itu. Dalam kesehariannya, sandal jepit yang berwarna kuning, berukuran kecil itu adalah sesuatu yang ordinary, sama saja dengan kondisi sandal jepit saya yang hilang itu. Meskipun dua benda tersebut adalah benda ordinary belum tentu saat dikombinasikan menjadi sesuatu yang ordinary juga karena hasilnya pada kasus sandal jepit saya adalah sepasang sandal jepit merk swallow yang berbeda warna, ukuran dan inisial yang berbeda pula. Proses pembalikan keumuman dan kebiasaan itu menjadikan benda tersebut tidak umum.

Pemandangan seperti itu jarang terlihat di masyarakat. Banyak orang yang tidak bisa memakai sesuatu yang asimetris, tidak serasi, tidak sama kiri-kanan, juga bukan miliknya. Akibat dari pembalikan ini menurut sebagian orang adalah sesuatu yang tidak mungkin dipakai. Digunakan, takut terlihat orang lain. Keadaannya berbeda saat saya dengan sengaja memakainya bersamaan. Ada perasaan yang ingin diperhatikan oleh orang lain, menjadi pusat perhatian, tidak menjadi pengikut gaya atau kebiasaan saja, tetapi mencoba sesuatu yang lain. Dalam kasus saya ini, ada keinginan untuk membuat gabungan dari ordinary dan ordinary yang menjadi sesuatu yang beda dari yang lain.

Dari contoh yang disebutkan di atas, terlihat bagaimana dua buah benda ordinary digabungkan, yang dalam proses tersebut terjadi pembalikan kebiasaan. Hasilnya adalah benda yang tidak umum, tidak biasa, not ordinary. Pada awalnya saya dan mungkin juga Anda mengira benda ordinary dan benda ordinary lain jika digabungkan menjadi benda ordinary pula. Ternyata belum tentu seperti itu. Saat sebuah rutinitas, ritual, keseharian dari benda ordinary itu dibalik, terciptalah benda yang tidak seperti yang ada sehari-hari, not ordinary.

Meskipun proses pembalikan itu menghasilkan sesuatu yang not ordinary yang tidak terbiasa dilihat oleh masyarakat, proses tersebut dapat membuat sesuatu yang khas, berbeda dari yang ada dan menjadi ciri khas. Contohnya adalah sebuah bangunan yang tidak mengikuti perkembangan jaman dan tren mode sehingga dia berbeda dari yang lainnya dan sangat khas serta memperkaya arsitektur dunia. Namun di luar itu semua, segala sesuatu yang ada di dunia ini bisa dianggap berbeda jka dilihat dari konteks tertentu dan menurut persepsi masing-masing orang.

Menurut Elizabeth Grosz, ”How to think architecture differently? How to think in architecture, or of architecture, without conforming to the standard assumptions, the doxa, the apparent naturalness, or rather the evolutionary fit assumed to hold between building? How to move beyond the pervasive presumption that subjectivity and dwelling exist in a relation of complementary, either a relation of containment (space or dwelling contains or houses subjects) or a relation of expression (space or dwelling as the aesthetic or pragmatic expression of subjectivity)? How to see dwelling as something other than containment or protection of subjects? In short, how to think architecture beyond complementary and binarization, beyond subjectifity and signification? This is a question that cannot afford easy answers: for ready-made answers become blockage for thought, for architecture, for building and creating. It is a question that thus cannot and should not be answered but must continually posed, rigorously raised in such a way to defy answers, whenever architecture, or for that matter any discipline practice, sinks comfortably into routine, into formulas, accepted terms, agreed-upon foundations, an accepted history of antecedents, or a pregiven direction.” (Grosz, 2001: 59)

Dalam kutipan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kita harus terus mengembangkan daya kreatifitas kita dengan cara terus mempertanyakan segala sesuatu sehingga tidak terkekang dan mengikuti kebiasan, kealamiahan yang ada, dan berjalan maju dengan subjektivitas kita sehingga tidak menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja.

Everything that is not ordinary, extra ordinary in this world can be such an ordinary.. Reveal the invisible. When ordinary meets the other ordinary, can be not ordinary. Something that you think ordinary may not be the same anymore.

 

Daftar Pustaka

Grosz, E. (2001). Architecture from the Outside: Essays on Virtual and Real Space. Massachusetts: The MIT Press.

Venturi, R. & Brown, D. (2000). Learning From Las Vegas. Massachusetts: The MIT Press.

>>back to table of contents

>>back to table of contents