Volume 2 No 3 (2008)

Ornamentasi dalam Arsitektur: The Ugliness of Beauty and the Beauty of Ugliness

Tezza Nur Ghina


Dalam keseharian, kita sering mendengar kata beauty dan ugly. Beauty selalu dimaknakan dengan yang indah-indah dan mempesona, sesuatu yang diharapkan, selalu diusahakan untuk dicapai. Sedangkan ugly sering dimaknakan sebagai sesuatu yang bersifat sampah, perlu dihindari dan dibuang jauh-jauh. Pemaknaan beauty dan ugly ini juga seringkali ditemui dalam dunia arsitektur. Arsitek berlomba-lomba membuat arsitektur yang beautiful, megah, mewah. Karena lapangan pekerjaan arsitek bukanlah pekerjaan yang rendah hati dan sederhana, selalu ada kecenderungan untuk menjadi ‘lebih’ bahkan ‘berlebihan’.

Arsitek kerap kali meninggalkan kebalikannya, arsitektur yang ugly. Padahal bisa jadi, ugly adalah sesuatu yang ordinary, sesuatu yang melekat erat dalam keseharian kita, ruang dimana kita hidup dan tinggal. Ugly memang tidak selalu berupa sesuatu yang sederhana, bisa jadi ugly adalah sesuatu yang sifatnya tinggi hati (berlebihan). Jika arsitek yang bersifat tinggi hati menginginkan membangun karya yang beautiful, apakah karyanya juga dapat dikatakan ugly? Pengertian ugly dan beauty di sini menjadi kabur.

Beauty, menurut filsuf Immanuel Kant, tergantung pada kualitas subjektif dan objektif. Dalam mempertahankan argumennya, Kant mengatakan , “the judgement of taste, therefore, is not a cognitive judgment, and so not logical, but is aesthetic - which means that it is one whose determining ground cannot be other than subjective". Kant juga menambahkan, bahwa bila ada seseorang menyebut suatu objek yang indah, “he judges not merely for himself, but for all men, and then speaks of beauty as if it were a property of things." Beauty dan ugly seperti yang dikatakan Kant, tergantung persepsi masing-masing orang. Penilaian manusia terhadap keindahan dan kejelekan berbeda-beda (subjektif). Namun kadangkala terdapat persamaan persepsi antara manusia dalam menilai suatu objek itu bagus atau jelek (objektif).

Pada “Something Else" Exhibition, saya mendapat kesempatan untuk membuktikan apakah inversi yang saya lakukan terhadap sandal jepit ‘biasa’ (dan cenderung dinilai ugly oleh banyak orang) menghasilkan pendapat yang sama bagi setiap orang, yaitu beauty. Berikut ini adalah deskripsinya.

Sandal jepit karet merupakan benda biasa yang sering kita jumpai dan kita pakai. Sandal ini dikenal karena kesederhanaannya, baik dalam bentuk maupun dari materialnya. Bagi sebagian orang, memakai sandal jepit ini sudah menjadi kebiasaan, misalnya dipakai keluar rumah ketika sedang bersantai, dipakai ke pasar tradisional, atau dipakai ke kamar mandi. Laki-laki maupun perempuan, tua atau muda, semua orang pada dasarnya dapat memakai sandal ini. Sederhana dan nyaman dipakai, adalah alasan mengapa sebagian orang tidak pernah meninggalkannya. Tetapi sebagian lagi menganggap sandal ini hanya sandal murahan dan jelek. Sandal jepit ini pada dasarnya berwarna putih dengan kombinasi warna kuning, dengan merk sandal pada bagian ‘tali’nya. Biasa saja bukan? Tak ada yang istimewa. Kemudian, saya menambahkan ornamen berupa payet-payet berwarna emas di bagian sandal yang berwarna kuning. Hasilnya? Terciptalah kesan glamor, memukau orang yang melihatnya. Sandal ini mencoba menjadi extraordinary, dan seakan-akan dia berteriak “look at me!”.


Sandal jepit 'bling-bling'


Teriakan “look at me!” tentu bertentangan dengan konsep ordinary. Seperti yang dikatakan Berke (1997): “An architecture of the everyday may be banal or common. It does not seek distinction by trying to be extraordinary, which in any case usually results in a fake or substitute for the truly extraordinary. In its mute refusal to say “look at me”, it does not tell you what you think. It permits you to provide your own meaning.”

Saya juga melontarkan kalimat-kalimat yang mengajak pembaca untuk membayangkan bagaimana menggunakan sandal berornamen ini ke tempat-tempat atau situasi-situasi yang bertolak belakang. Misalnya digunakan oleh dosen saat memberi kuliah, tentu terasa aneh bukan? Intinya, proyek pameran saya ingin membuat sandal ini memiliki kesan indah tapi menjadi aneh dan asing bila digunakan.

Sesuai teori Kant, beauty tergantung pada subjek yang menilai, termasuk penilaian dari manusia berbeda gender. Apa yang dipikirkan perempuan tentang the beauty dari sandal ini berbeda dengan laki-laki. Semula, mungkin pendapat laki-laki maupun perempuan sama saja, laki-laki maupun perempuan sama-sama pantas untuk memakainya. Tapi kini, sandal ini lebih diinginkan perempuan daripada laki-laki, karena kesan beauty lebih akrab pada perempuan, sedangkan beauty yang dirasakan laki-laki menjadi asing, bahkan akan dibalik lagi menjadi sandal yang ugly.

Dari pengalaman “Something Else" Exhibition yang lalu, saya mendapati bahwa perempuan sangat menyukai sandal berornamen itu, bahkan ada yang menginginkan sandal itu menjadi milik mereka. Sebenarnya, yang saya ingin lakukan adalah membuat sandal ini menjadi sandal yang tidak diinginkan untuk dipakai. Ternyata, tidak berhasil pada perempuan.

Saya juga mendapati salah satu pengunjung berjenis kelamin laki-laki, berkomentar sambil menunjuk sandal ini, “wah, ini terlalu hebat”. Saya hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati, “mungkin maksudnya, sandal ini terlalu heboh”. Karena saya sendiri menilai sandal berornamen itu belum cukup istimewa, sandal jepit berornamen seperti itu juga ada yang menjualnya (tapi tentu berbeda dengan sandal yang saya buat).

Tetapi, apa yang saya lakukan terhadap kasus sandal jepit itu merupakan sebuah jebakan. Jebakan yang mengarah kepada kepalsuan. Penambahan ornamen emas hanyalah manipulasi mata belaka. Adolf Loos pernah mengatakan, “ornament is a crime”. Seperti halnya manipulasi mata yang sering dilakukan oleh arsitek. Penambahan-penambahan ornamen semacam itu hanya make-up belaka. Arsitek berlomba-lomba mempercantik bangunannya demi kepuasan mata, mementingkan beauty dari segi penampilan saja. Dan sering kali arsitek kurang memikirkan pengalaman ruang yang dialami manusia di dalamnya.

Jangankan berlomba-lomba untuk menghiasi bangunan, bangunan tak berornamen pun sebenarnya telah membohongi kita dengan kepalsuan, usaha menutupi apa yang selama ini kita anggap jelek.

Most of our walls are lies. You see a white wall, but what you are not seeing is the drywall or plasterboard under the paint, let alone all the chemicals that compose the paint. The drywall is itself a liquid element fused into a smooth granular surface… Between the studs snake mile after mile of electrical wires, telephone cables, air-conditioning or heating ducts and plumbing chases… when we are inside buildings we don’t see any of this incredible complexity.” (Betsky & Adigard, 2000)

“A building under construction is much more beautiful than when it is done,” said the architect Frank Gehry in 1978. That is because we believe that revelation of a thing is beautiful…The beauty of construction led Frank Gehry to design buildings that shows their studs, their wiring and their plumbing. (Betsky & Adigard, 2000) Hal ini mengembalikan kita kepada pemaknaan beauty. Selama ini sebagian besar dari kita hanya melihat beautydari kulit luarnya saja. Padahal, beautydapat dilihat dari pemaknaan proses yang rumit di dalamnya.

Architecture may be ordinary – or rather, conventional – in two ways: in how it is constructed or how it is seen, that is, in its process or in its symbolism.” (Venturi, 1966). Arsitektur bisa saja berupa bangunan ‘biasa’. Bangunan yang biasa kita temui sehari-hari; sekolah, kampus, kantor, pasar, toko, dan sebagainya. Bisakah bangunan-bangunan ‘biasa’ ini dibalik menjadi sesuatu yang ‘luar biasa’? Pertanyaan inilah yang menjadi tantangan bagi seorang arsitek.

Mari kita lihat kasus Las Vegas, bangunan-bangunan yang terdapat di sana adalah bangunan yang ‘biasa’ dijumpai; hotel, restoran, bar, kasino, dan sebagainya. Tetapi menjadi sesuatu yang ‘luar biasa’ saat sign dan tema-tema berbeda bermunculan di tiap bangunan, ‘membungkus’ arsitektur yang ‘biasa’ menjadi ‘luar biasa’. “Main Street and Disneyland merge on a vast scale in Las Vegas, where the main strip is a themed versions of some other place. Behind the facades, the buildings are merely a form of the generic architecture that houses office buildings and apartment blocks” (Betsky & Adigard, 2000).

Papan-papan sign mendominasi jalan dan saling ‘bersaing’ untuk menangkap perhatian pengunjung. Papan-papan dengan berbagai bentuk mendominasi pemandangan. Sebagian orang menganggap fenomena itu merupakan yang uglykarena ketidakteraturan yang ditimbulkannya. Namun di sisi lain, papan-papan sign tersebut memberi makna beautyterhadap arsitektur.

… At night totally different environment is revealed, hidden by day, formed by the electric illuminations where space is defined, not by buildings, but by artificial light. By analyzing the apparent chaos of Las Vegas, Venturi attempted to evolve a self-conscious design philosophy for an ‘ordinary’ and ‘inclusive’, popular modern architecture of decorated sheds with obvious ‘fronts and backs’ employing traditional signs and imagery” (Hellman, 1988)

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, beauty tidak selalu tampak pada penampilan luarnya. Beautydapat terkandung dalam ugliness dan ugliness dapat terkandung dalam beauty. Arsitektur harus dapat menyingkap beauty dalam ugliness yang tersingkap.

 

Daftar Pustaka

Berke, D. (1997). Thoughts on the Everyday. Dalam Harris, S. dan Berke, D. (Ed.), Architecture of the Everyday. New York: Princeton Architectural Press.

Betsky, A. & Adigard E. (2000). Architecture Must Burn. California: Gingko Press.

Hellman, L. (1988). Architecture For Beginners. New York: Writers and Readers Publishing. Inc.

Kant, I. (1790). Critique of Aesthetic Judgement.

>>back to table of contents

>>back to table of contents