Volume 2 No 3 (2008)

Editorial


Banyak hal tak terduga yang dapat dipelajari dari apa yang selama ini kita anggap biasa di sekitar kita. Gagasan tentang ordinary inilah yang kami angkat dalam 'Something Else' - sebuah exhibition project yang mencoba mencari pemaknaan dari ordinary, serta bagaimana pembalikan gagasan tentang ordinary (inverting the ordinary) dapat melahirkan beragam pemaknaan baru dalam praktek berarsitektur. Sejumlah tulisan dalam edisi kali ini merupakan wacana hasil eksplorasi dalam proyek 'Something Else'. Sebagian eksplorasi dilakukan melalui inversi obyek sederhana, namun ternyata mampu mengangkat beragam isu yang dapat bermakna bagi penjelajahan arsitektur.

Naomi Paramita Adhi berwacana tentang bagaimana ordinary menjadi sangat bermakna meskipun merupakan sebuah rutinitas dan repetisi, yang maknanya belum tentu menjadi lebih baik bila dijadikan extraordinary. Dewi Andhika melalui inversi dari sendok garpunya menunjukkan bahwa inversi dari suatu obyek yang familiar ternyata mampu memaksa terjadinya perubahan perilaku. Tezza Nur Ghina mengangkat isu ornamentasi dalam arsitektur dan menunjukkan bahwa penilaian tentang indah dan jelek tidaklah sederhana. Wacana tentang indah-jelek ini juga dibahas oleh Christa Indah, melalui upayanya mengedit tampilan yang extraordinary menjadi ordinary.

Tulisan lain dari Ramadana mengangkat kompleksitas dari pengertian ordinary saat dilakukan inversi, yang selanjutnya menimbulkan pertanyaan sejauh mana ordinary dan inversinya saling bertentangan atau justru saling melengkapi. Dyah Ayuningtyas membahas tentang apa yang dihasilkan dari penggabungan sesuatu yang ordinary dengan ordinary lain. Selain sejumlah wacana dari 'Something Else', sebuah catatan dari Avianti Armand menutup wacana di edisi ini, melalui catatan landscape sebuah perjalanan yang mengungkap beragam fenomena keseharian.

Secara umum semua tulisan dalam edisi ini mengindikasikan bahwa gagasan tentang ordinary tidaklah sederhana. Gagasan tentang ordinary, extraordinary ataupun not ordinary ternyata mampu memicu berbagai interpretasi, pemikiran, pertanyaan serta pemaknaan kembali. Sehingga gagasan ordinary ini patut terus-menerus kita gali, baik dalam keseharian kita maupun dalam praktek berarsitektur.


Yandi Andri Yatmo & Paramita Atmodiwirjo
Editor

>>back to table of contents

>>back to table of contents