Volume 2 No 3 (2008)

Membalik Ordinary, Mengubah Perilaku

Dewi Andhika


Ordinary saya anggap sebagai suatu keadaan yang dianggap familiar oleh kita dalam jumlah banyak. Sesuatu dapat dianggap ordinary tergantung dari sudut pandang dan konteks dari mana dilihatnya. Ketika ordinary di inversi, apakah selalu menjadi extraordinary?. Menurut saya inversi dari ordinary akan menghasilkan not ordinary dimana di dalamnya tercakup extra ordinary yang berlawanan dengan less ordinary. Kedua kata itu saya ambil untuk menunjukkan bahwa setelah sesuatu diinversi masih ada tingkatannya. Berada di mana sesuatu setelahnya tergantung siapa yang menilai. Sesuatu dapat menjadi extra ordinary dan less ordinary secara bersamaan kembali lagi dari siapa yang menilainya. Dan bukannya tidak mungkin, saat proses inversi dari ordinary yang terjadi justru hasilnya menjadi ordinary juga.


Sendok garpu: Ordinary

Pada proyek inversi ordinary ini saya mengambil contoh sebuah sendok dan garpu. Sendok dan garpu saya pilih karena benda ini merupakan salah satu benda yang ordinary menurut saya. Sendok dan garpu menjadi alat makan umum bagi masyarakat di Indonesia dan beberapa negara lain di dunia. Sebagian besar rumah makan, mulai dari rumah makan besar hingga warteg selalu menyediakan kedua alat makan tersebut. Bahkan kedua alat makan ini menjadi alat makan yang pasti disediakan dalam jamuan makan formal, khususnya internasional. Maka alat makan ini pun menjadi benda yang ordinary bagi masyarakat yang selalu memakainya. Namun alat tersebut dapat menjadi not ordinary bagi bangsa Jepang yang terbiasa dengan sumpit, atau bagi orang Indonesia yang sedang makan nasi, lalap, sambel dan lauk dimana biasanya mereka memakan langsung menggunakan tangan.

Sendok-garpu bagi saya dan sebagian besar masyarakat Indonesia dianggap sebagai sesuatu yang ordinary. Kemudian bentuk sendok-garpu pun menjadi seragam. Lempeng keras, lurus, dengan perbandingan lebar sekitar 1/10 dari panjangnya, pada salah satu sisi bagian akhir dari lebarnya terdapat bidang membulat cekung atau cembung bila dilihat dari sisi berbeda (sendok), atau bidang yang terkesan terbelah-belah membentuk garis-garis berjejer (garpu) yang juga cekung atau cembung dari sisi berbeda. Bentuk sendok garpu inilah yang mempengaruhi cara makan seseorang, bagaimana cara memasukkan makanan ke dalam mulut.

Saya sendiri menggunakan sendok-garpu dengan cara memegang sendok pada tangan kanan, dan memegang garpu pada tangan kiri. Sendok dipegang dengan jari tangan pada bagian memanjang pada sisi berlawanan dari yang memiliki ujung membulat, dengan sisi cekung berada di atas (menghadap langit). Ruas ujung jari jempol berada di atas lempeng memanjang (gagang) pada area 1/5 bagian gagang yang berlawanan dengan ujung membulat, mengarah ke kanan sehingga hampir tegak lurus dengan bagian gagang sendok. Sisi bawah jari telunjuk menjepit salah satu sisi samping gagang dengan bagian ujung jari menghadap ke bagian membulat sendok. Kemudian sisi samping jari tengah menopang sisi bawah gagang dengan ujung jari berlawanan arah dengan jari jempol. Begitu pun cara memegang garpu namun dengan arah jari jempol ke kiri dan seterusnya.

Ujung membulat sendok kemudian digunakan untuk meletakkan makanan yang akan dimasukkan ke mulut, dengan garpu berfungsi untuk membantu makanan diletakkan di bagian cekung sendok, serta menusuk makanan. Selanjutnya sendok digerakkan menuju mulut dengan cara menggerakkan bagian bawah lengan tangan sehingga sendok menuju mulut. Begitu juga bila garpu ingin didekatkan ke mulut.


Sendok garpu: Inverting the Ordinary

Dengan mengambil sudut pandang orang yang terbiasa makan dengan sendok-garpu, apa yang terjadi saat dilakukan inversi terhadap obyek yang ordinary ini? Kemudian saya mempertanyakan apakah harus makan dengan cara seperti itu yang terpengaruh oleh bentuk sendok-garpu. Bila bentuk sendok-garpu diubah, apakah masih dapat memasukkan makanan ke mulut? Apakah makanan masuk ke mulut dengan cara memegang sendok-garpu yang sama atau berbeda?

Sendok-garpu yang awalnya tampil dengan profil lurus, memanjang dengan salah satu ujung cekung, menyimpan potensi untuk menjadi sesuatu yang tidak lurus, ujung cekung yang berada dalam satu garis lurus dengan gagang juga menyimpan potensi untuk tidak lurus. Ketika sendok garpu dibengkokkan, gagang yang awalnya lurus berubah menjadi meliuk-liuk, berubah arah. Ujung sendok-garpu yang awalnya berada dalam satu garis lurus berubah menjadi memiliki sudut terhadap gagangnya, maka terjadilah perubahan bentuk.


Pengalaman makan

Ketika saya (sebagai orang yang terbiasa makan dengan sendok-garpu konvensional) mencoba sendok-garpu ini untuk makan, sepertinya sudah terpaku dalam pikiran saya bahwa cara menggunakannya akan seperti yang telah saya deskripsikan di atas. Awalnya saya coba memegangnya dengan cara konvensional, saya coba mengarahkan dan meletakkan makanan di dalam cekungan sendok. Untuk dapat mengarahkan makanan tersebut maka saya harus merubah gerakan tangan saya menekuk, dan terlebih lagi ketika menyuapnya ke dalam mulut. Cara-cara bagaimana biasanya saya memotong makanan, mengarahkan makanan dan memasukkan makanan ke dalam mulut sudah tidak berlaku disini. Saya harus melakukan gerakan menekuk tangan, pergelangan tangan, serta arah pandangan mata yang berbeda dengan sendok-garpu baru ini. Hal ini mempengaruhi juga seberapa dekat tubuh saya dengan sumber makanan. Kemudian saya mencoba dari awal lagi dengan cara memegang yang berbeda. Saya menggenggam gagang sendok-garpu dengan seluruh jari tangan melingkupi gagang tersebut, dengan jari jempol menumpuk di atas jari telunjuk (seperti memegang raket badminton).

Saya tertawa dalam hati karena melihat sendiri bagaimana cara saya makan, saya merasa aneh, merasa makan seenaknya tanpa sopan santun. Tetapi pengalaman makan tersebut menarik, berbeda dari bagaimana cara saya mengontrol tangan saya untuk makanan sampai ke dalam mulut. Reaksi aneh lainnya terjadi dari ibu saya yang sempat melihat saya makan. Ia terdiam di belakang saya, memperhatikan dan hampir tidak berkomentar. Reaksi lain juga terjadi dari adik saya yang melihat saya makan dan mengatakan bahwa saya sudah gila. Ketika saya menawarkannya untuk mencoba dengan cepat dan tegas dia katakan tidak mau.

Reaksi-reaksi seperti tertawa dalam hati, terdiam (tidak percaya) hampir tidak dapat berkata-kata, tidak mau mencoba, dan mengatakan ”aneh”, ”gila” hanyalah sebagian kecil dari reaksi seseorang ketika apa yang dilihat, dirasakan berbeda, bertentangan dengan apa yang seseorang tahu atau biasa alami (ordinary). Reaksi di atas semuanya mencerminkan penolakan dari not ordinary, dapat dikatakan bahwa inversi ’sendok-garpu’ ini menjadi not ordinary yang tergolong tipe less ordinary. Namun bukannya tidak mungkin bahwa inversi ini menjadi extraordinary. Mungkin bagi mereka yang suka makan dengan sendok-garpu dengan cara menggenggam sendok-garpu ini menjadi extra ordinary karena benar-benar sesuai dengan cara makan mereka.

Ketika sendok-garpu dibengkokkan, yang awalnya lurus menjadi bergelombang, berubah arah sehingga terjadi perubaan pada surface-nya. Bila dilihat tidak ada yang berbeda kecuali bentuknya yang meliuk. Namun perubahan lain terjadi ketika sendok-garpu ini digunakan untuk memasukkan makanan ke dalam mulut. Perubahan surface itu ternyata telah banyak mempengaruhi cara kontrol bagian tubuh kita terhadap bagaimana agar makanan yang ada dapat diarahkan untuk menempati ruang cekung pada sendok, bagaimana sendok harus digerakkan, bagaimana garpu menggiring makanan menuju sendok, bagaimana makanan dapat terpotong, bagaimana cara makanan dapat tertusuk garpu. Perubahan bentuk tersebut dapat mempengaruhi perubahan pada cara memasukkan makanan ke mulut. Semua perubahan ini berpengaruh terhadap bagaimana bagian tubuh berperilaku.


Kesimpulan

Perubahan surface pada inversi ordinary sendok-garpu kemudian sangat berpengaruh pada bagaimana reaksi dari anggota tubuh diri si pemakai dalam rangka mengontrol/ mengarahkan agar makanan dapat masuk ke dalam mulut dan juga menimbulkan reaksi bagi orang lain yang melihatnya. Ketika sendok-garpu diubah maka perilaku memasukkan makanan ke dalam mulut pun berubah, namun tetap saja proses makan dapat dilakukan. Yang menjadi pertanyaan adalah jadi apakah sendok-garpu harus selalu seperti yang sudah ada? Ketika dapat terbuka kemungkinan lain yang membuat pengalaman makan menarik, dan mengapa sendok-garpu di seluruh dunia selalu sama? Sehingga manusia seolah-olah memiliki mind set bahwa makan hanya seperti itu, padahal masih banyak kemungkinan lain terjadi. Untuk mengikuti bentuk standar, manusia melupakan, meninggalkan sesuatu yang bervariasi, melupakan kemenarikan dari keragaman. Melupakan identitas, kebiasaannya karena mengkuti yang standar. Sesuatu yang familiar menjadi terlupakan atau menjadi asing, ”......the strange becomes familiar, the familiar becomes strange” (Borden et al, 1999).

 

Daftar Pustaka

Borden, Iain et al (1999). Strangely Familiar. New York: Princeton Architectural Press.

>>back to table of contents

>>back to table of contents