Volume 2 No 3 (2008)

Ordinary: Beutiful & Ugly

Christa Indah


Everyday
They become our role model to be called beautiful
They are extraordinary
Stylish hair, sexy dress, big boobs, nice ass, slim bally
They all did that
Then they become ordinary
Why don’t let all go
Not making perfect pose in front of the camera
Tell others to be proud with the imperfection
By being your own self (the ordinary)
You’ll still be called beautiful
And you become not ordinary


Madonna, Jenifer Lopez, Britney Spears, dan Beyonce Knowles merupakan sebagian dari aktris wanita yang mendapat pengakuan dunia sebagai ikon kecantikan (Cosmopolitan, 2007). Hal tersebut terbukti dari penghargaan yang mereka terima melalui sebuah majalah internasional “The Most Beautiful People in The World”, majalah yang memberikan apresiasi pada manusia atas keindahan fisiknya. Keempatnya menempati lima posisi utama (top five) pada tahun yang berbeda. Madonna hampir setiap tahunnya, Britney Spears tahun 2000 dan 2001, Jennifer Lopez tahun 1998, dan Beyonce Knowles tahun 2003. Masing-masing dengan karakternya sendiri-sendiri; Madonna disebut ikon bunglon, Britney Spears the sweet temptation, Jennifer Lopez hot Latinas, dan Beyonce Knowles bootylicious.

Jika dilihat dari foto-foto yang dipublikasi selama ini, terdapat satu kesamaan besar dari keempatnya, yaitu mengejar sebuah citra kesempurnaan dalam hal fisik. Tentu mereka memang telah dianugerahi lebih oleh Tuhan secara fisik. Jennifer mengatakan “beauty is a gift from God and we have to share it with others” (Cosmogirl Magazine, Januari 2007). Tetapi tentunya kecantikan yang mereka tampilkan berbeda satu sama lain, lebih dari hanya rambut indah, tubuh langsing, dada besar, gigi dan senyum sempurna. Pasti ada sesuatu yang lain, yang lebih dari itu.

Namun kenyatannya tidak demikian, semuanya justru membuat sebuah standar tentang “tampil cantik”. Rambut mereka tampak “besar” ketika difoto, dicat pirang atau kecoklatan. Dada dan bokong diumbar agar terlihat seksi. Perut harus rata dan tanpa lemak. Bahkan demi tujuan memiliki citra diri yang sempurna hingga rela mengikuti program diet ketat, suntik lemak, botox, sampai operasi plastik.(Cosmopolitan, 2007).

Penggemar cenderung mengikuti idolanya. Banyak wanita yang salah persepsi tentang arti kecantikan (beauty). Saat ini istilah inner beauty memang sudah banyak diketahui orang. Setiap wawancara di televisi mengenai definisi cantik menurut anda, maka semua akan menjawab “Kecantikan fisik bukanlah hal yang terpenting, yang paling penting adalah inner beauty”. Menurut saya itu hanyalah omong kosong dan jawaban yang klise semata. Majalah Cosmopolitan membuktikan 72% wanita di dunia merasa stress ketika berat badannya naik, 56% wanita di dunia melakukan operasi untuk menambah dada atau bokongnya agar tampil lebih seksi, dan yang tak diduga 40% wanita di Jakarta mengecat rambutnya berwarna kecoklatan.

Jika semua wanita di dunia ini mengejar kesempurnaan dan mengikuti dogma yang salah tentang menjadi cantik, maka semuanya menjadi sama, ada suatu standrisasi, sehingga tidak ada yang bisa dikatakan extraordinary atau not ordinary. Cantik adalah fisik; langsing, gigi rapih, rambut berwarna dan sebagainya, Cantik pada akhirnya akan menjadi membosankan, karena semuanya sama. Saat pertama kali melihat sosok Jennifer Lopez, Britney Spears, Madonna, dan Beyonce mungkin kita akan berpendapat “ada sosok segar dan baru di sini”. Tetapi jika telah terbiasa, mulai dari anak remaja biasa, ibu rumah tangga, hingga artis menampilkan citra itu semua dalam keseharian, maka semuanya menjadi biasa, ordinary dan mungkin menjadi membosankan. Daripada melihat foto-foto seksi mereka, mungkin akan lebih menarik melihat Michael Jackson yang sangat tergila-gila pada operasi plastik. Mulai dari kulitnya yang menjadi putih ,hidung mancang, pipi merah, hingga akhirnya tulang hidungnya hancur dan wajahnya menjadi tidak lagi ordinary.

Berbicara kecantikan (beauty), atau kata sifatnya beautiful, ada banyak pandangan mengenainya. Aristotle mengemukakan “the beautiful object is one which has the ideal structure of an object; it’s has the form of totality” (dalam Cousins, 1994: 60), sehingga ugliness dipahami sebagai sesuatu yang di luar kriteria (negation) .Keutuhan menjadi suatu yang penting. Sesuatu yang pas pada takarannya, jika dilebihkan atau dikurangi sedikit maka tidak lagi dapat dikatakan beautiful. Sehingga apa yang dinyatakan buruk selalu dibayangi oleh hal-hal yang indah, “ugliness always shadowed by beautiful” (Cousins, 1994: 60). Selalu ada perbandingan, jika ini maka bagus, jika tidak maka buruk - full of judgement.

Terkait dengan proyek inverting the ordinary yang mencoba membalikkan 180 derajat sesuatu yang ordinary, apakah berarti saya menginversi beautiful menjadi ugly? Tidak. Terdapat teori mengenai beauty lain yang membantah Aristotle. Ungkapan Kahn tentang beauty menyatakan “Aesthetic cannot deal with ugliness, save as negation as a moment of beauty” (Cousins, 1994: 62). ”The ugly object is an object which is experienced both as being there and as something that not should be there. That is the ugly object is an object in the wrong place.”(Cousins, 1994: 64).

Ketika saya melakukan inversi ini, saya hanya mencoba membuat para wanita cantik ini tampil lebih manusiawi. Tidak ada manusia yang sempurna bukan? Madonna aslinya berusia hampir 50 tahun, tapi ia selalu menjual kemudaannya. Mengapa tidak diperlihatkan saja kerutan dan kempotnya? Britney yang kini keadaannya menjadi seperti gambar hasil editan saya, gemuk, banyak lemak, dan botak karena depresi, berhasil menunjukkan kebosanan akan kesempurnaan itu pada dunia nyata.Tidak ada satu pun yang berkata bahwa ia jelek, ia tetap cantik walau botak dan gemuk. Jennifer Lopez tidak memiliki dada yang besar, karena itu ia selalu mengeksposnya secara berlebihan. Agar kekurangannya tidak terlihat, mengapa ia tidak botak dan tampil tertutup saja? Tidak akan ada yang mengatakan itu buruk. Begitu juga dengan Beyonce yang selalu dikatakan orang montok, berkali-kali ia menjalani diet ketat agar langsing, mengapa? Bukankah ia juga cantik dengan segala kelebihan dan kekurangannya?

Apakah cantik itu ada rumusannya? Dada besar, rambut besar, senyum bagus, dan kulit halus? Harus ada order untuk semua itu? Ketika kecantikan itu jauh dari kesempurnaan (imperfection), ketika melihat sesuatu yang janggal seperti gendut, botak, gigi tonggos, dan sebagainya bukankah ada kenikmatan tersendiri,? Kita akan melihat sesuatu yang indah dalam sebuah yang jelek, yang tidak pada order. “There is another story, more obscure and obscene, about the relation between the unconscious and ugliness. It is an account of the ecstasy which the unconscious enjoys in all that is dirty, horrifying and disgusting – that is, of ugliness as an unbearable pleasure” (Cousins, 1994: 64).

Melihat foto-foto hasil editan saya, pasti timbul banyak kegelian, anggapan aneh, terasa sesuatu yang salah, “Kok Britney begini sih? Ga enak dilihat banget!”. Tapi seperti argumen saya sebelumnya, melihat sesuatu yang lain, yang not ordinary tadi akan menimbulkan pleasure tersendiri. Secara tak sadar bagi kita akan terasa adanya unsur komedi, ada pula unsur menjijikkan, dan itu lebih menarik ketimbang melihat sesuatu yang dikatakan “baik atau cantik”. Usaha saya untuk menginversi sangatlah jauh dari kesempurnaan, tetapi ada beberapa komentar dari pengunjung exhibition yang mengatakan bahwa hasil inversi saya cukup not ordinary, dan justru lebih manusiawi. Karena sesungguhnya perempuan itu tidak ada yang sesempurna seperti yang terlihat pada gambar-gambar yang ditampilkan. Justru mereka jadi bertanya, jangan-jangan foto yang asli merupakan editan, karena artis-artis tersebut terlihat begitu sempuna. Sementara gambar editan saya menjadikan mereka seperti perempuan sebagaimana mestinya.

Arsitektur juga demikian, selalu saja berkaitan dengan perihal indah dan tidak indah, ideal dan tidak ideal, baik dan buruk, selalu ada judgement. Terutama dalam arsitektur modern yang banyak’ membantai’ mengenai ornamen, patung, instalasi sebagai bukan arsitektur. Yang berlebihan dianggap tidak baik, mengabaikan keseharian (budaya masyarakat dan lokalitas), berusaha merancang skenario kesempurnaan di atas kertas. Pada kenyataannya, tidak ada yang sempurna, yang tidak sempurna tidak selalu buruk, sama seperti yang tidak cantik bukanlah jelek.

An architecture of the everyday may be Banal or common. It does not seek distinction by trying to be extraordinary, which in any case usually results in a fake or substitute for the truly extraordinary. In its mute refusal to say “look at me” it does not tell what you think. It permits you to provide your own meaning… An architecture of the everyday may therefore be quiet ordinary. It is blunt, direct, and unselfconscious. It celebrates the potential for inventiveness within the ordinary and is thereby genuinely “of its moment”. It may be influenced by market trends, but it is resist being defined or consumed by them. (Berke, 1997; 224)

Hal-hal di ataslah yang saya coba terapkan dalam tugas kali ini, menginversi bukan untuk menjadi extraordinary. Mencoba melihat sisi lain dari apa yang sudah ada. Mencoba menginversi pikiran, mana yang akhirnya ordinary, yang asli atau yang diedit, begitu pula sebaliknya. ”The ugly object is existence itself, in so as far as existence is the obstacle which stands in the way of desire. And so it is, from the point of view of desire, that ugly object should not be there. Its character as an obstacle is what makes it ugly” (Cousins, 1994: 64).

 

Daftar Pustaka

Berke, Deborah. (1997). Thoughts on The Everyday. Dalam Steven Harris dan Deborah Berke (Ed.), Architecture of The Everyday. New York: Princeton Architectural Press.

Cousins, Mark. (1994). The Ugly. AA Files 28.

Kant, Immanuel. Analytic of the Beautiful.

Miles, Malcolm. (2000). The Uses of Decoration, Essays in the Architectural Everyday. West Sussex: John Wiley & Sons.

Cosmopolitan Magazine, Beauty Section, January and March 2007.www.cosmopolitan.com

The Most Beautiful People. www.mostbeautifulpeople.com


>>back to table of contents

>>back to table of contents