Volume 2 No 1 (2008)

Kota Ideal untuk 'Sekarang'

Kristanti Dewi P.


To change life, we must first change space...” (Henri Lefebvre)

Definisi kota ideal merupakan awal dari sebuah pencarian yang panjang. Plato mendefinisikannya sebagai sebuah pencerminan dari kehidupan dalam ruang jagat yang berdasar pada hubungan manusia dengan sesamanya (London, 2000). Lebih jauh lagi, ia juga mendefinisikannya sebagai sebuah bentuk organisasi sosial dan politis yang memudahkan warganya mengembangkan potensi mereka dan hidup bersama sesuai dengan nilai kemanusiaan dan kebenaran (London, 2000). Bahkan awal dari bentukan kota pun berasal dari sekumpulan manusia yang berkumpul di suatu tempat dan berdiam berdasarkan suatu tujuan (Wikipedia, 2007) sehingga dapat terlihat dari penjabaran di atas, bahwa terdapat beberapa elemen yang sangat berpengaruh dalam definisi kota, yaitu manusia dan ruang.

Sebuah kota adalah sebuah tempat, yang dimana orang-orang di dalamnya mengidentifikasi diri mereka dengan lokasi tersebut. Sebuah kota merupakan kumpulan tempat yang mempunyai berbagai penanda dan kenangan masing-masing. Deleuze (2000) menyatakan bahwa “…to learn is to remember, and learning is essentially concerned with signs…”.Saat manusia belajar, dia akan mencerna penanda dari lingkungannya dan mengingatnya terus menerus. Hal ini dapat menjelaskan mengapa manusia dapat mempunyai keterikatan yang erat dengan daerah asalnya, karena telah belajar untuk mengingat dalam rentang waktu yang cukup lama.

Kota menjadi kumpulan memori karena merupakan wadah dari fungsi hidup dasar manusia yang merekam siklus dan daur hidup manusia. Kota adalah tempat kita hidup dan bertinggal, tempat kita bekerja atau belajar, bahkan kota adalah tempat kita bermain. Sesuai dengan pernyataan Plato di atas,dapat disimpulkan bahwa kota yang ideal adalah kota yang mampu memberikan tempat terbaik bagi warganya, untuk melaksanakan fungsi-fungsi dasar hidupnya seperti yang telah disebutkan di atas.

Dalam kehidupan berkota, pun tidak terlepas di dalamnya penggunaan teknologi.Hal ini disebabkan karena sebuah kota dihubungkan oleh segenap infrastruktur (United Nations Cyberschoolbus, 2007) seperti jalan, pembuangan dan air bersih. Keberadaan infrastruktur tersebut sangat didukung pencapaiannya oleh teknologi yang ada, sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup warganya dengan lebih baik secara kolektif.

Elemen penyusun kota, seperti manusia, ruang kehidupan, dan memori-memori ataupun teknologi pendukung tersebut adalah elemen yang sifatnya selalu berkembang. Selalu ada populasi manusia, perkembangan arus budaya yang meningkatkan kumpulan memori dan juga berpengaruh ke ruang hidup manusia, dan tentu kemajuan teknologi pendukung. Hal ini sesuai dengan pernyataan berikut: “As the city grows, its organization becomes more complex (and, of course, more expensive). The needs and demands of citizens change…” (United Nations Cyberschoolbus, 2007)

Mengapa dinyatakan bahwa kebutuhan dan permintaan penduduknya berubah? Hal ini disebabkan karena terdapat perubahan kondisi lingkungan dan perubahan pola pikir masyarakat akibat semakin heterogennya budaya yang didukung oleh kemajuan teknologi. Kultur yang dibentuk masyarakat sekarang dan dulu sudah jauh berbeda karena perkembangan elemen-elemen yang disebutkan di atas tersebut, dan hal itu sangat berpengaruh ke perubahan bentuk kota karena kota mengikuti perkembangan kultur masyarakat atau warganya.

Dalam pemikiran sebuah kota, salah satu bagian terpenting adalah adanya sebuah tempat (place) dengan batasan geografis. Untuk pemahaman kota ‘sekarang’, sesungguhnya batasan ini secara kasat mata sifatnya tetap, namun secara psikologis dapat berubah menjadi lebih membaur dan kabur (blur) sifatnya.

Perluasan jangkauan teknologi komunikasi dan infrastruktur yang mengakomodasi pergerakan memungkinkan manusia untuk pergi ke tempat yang lebih jauh dan tetap dapat berkomunikasi ke siapapun yang diinginkannya. Bentuk komunikasinya sudah bukan lagi bersifat lokal, namun lebih mengarah ke komunikasi global.

Hal ini memungkinkan terjadinya perluasan ruang berkehidupan kota dan sekaligus merubah bentukannya, sesuai dengan pernyataan dari Abel (2004) bahwa "…new technologies and decentralized patterns of production and consumption are reinforcing the same trend, making it possible to live and work in smaller communities and at the same time to communicate more easily over large distances…"

Dapat disimpulkan bahwa perkembangan elemen-elemen penyusun kota dapat mengubah pola perkotaan, dari awalnya memusat (centralized) menjadi menyebar (decentralized). Pengubahan pola perkotaan dan perkembangan elemen-elemen penyusun kota ini juga berpengaruh kepada hal lain selain batas kota, yaitu pergerakan kota (city movement). Pengaruh perkembangan teknologi menantang pergerakan warga kota baik secara fisik maupun non-fisik. Hal ini penting bagi kehidupan berkota, sebab cara menikmati pengalaman berkota ‘sekarang’ yang paling baik adalah dialami sambil bergerak, sehingga dapat menikmati dan merasakan kumpulan memori-memori yang tersusun melalui elemen kota yang berfungsi mendukung kehidupan manusia, baik melalui bangunan, alam, maupun infrastruktur, yang ketiganya kemudian berintegrasi dalam membentuk suatu pengalaman dalam sebuah ruang kota, yang sesuai dengan pernyataan di bawah ini:

represents the spatial patterns of the physical elements that cities consist of. These elements belong to the following three categories: 'networks' - e.g. transportation networks for people, goods, water, energy and information -, 'buildings' - including residential, commercial and industrial buildings -, and 'open space' - such as parks, gardens, places and courtyards…” (Lorenz, 2003)

Dari penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat paling tidak dua hal yang sangat penting untuk pencarian definisi kota ideal ‘sekarang’, yaitu batas ruang berkehidupan kota (bukan secara kasat mata atau fisiologis, namun berupa pengalaman secara psikologis), serta pergerakan berkota. Seperti yang telah dijelaskan di atas, dua hal ini pun sangat dipengaruhi oleh perkembangan manusia, ruang kehidupan manusia, budaya dan perkembangan teknologi yang juga saling berkaitan satu dengan yang lainnya yang kemudian membentuk bentuk kota ideal ‘sekarang’.

Secara geometris, menarik bahwa bentuk [form] kota ideal ‘sekarang’ didasarkan pada bentukan yang cukup dinamis, karena berdasarkan pertumbuhan elemen kota.Dalam proses pem’bentuk’an kota, terdapat interaksi antara elemen-elemen kota, yang sifatnya sangat unik satu sama lain, sehingga membentuk suatu bentukan organik [organic form] (Lorenz, 2003), berbeda dengan bentukan grid seperti yang dirancang Le Corbusier untuk Chandigarh yang sifatnya sangat teratur.

Bentuk organik ini salah satunya muncul karena dipengaruhi perluasan jangkauan pergerakan dalam kehidupan berkota, yang sifatnya tumbuh dan menyebar, bukan terkungkung dalam batasan yang kaku. Kota juga terbentuk dan tumbuh karena hubungan dan interaksi antar elemennya yang telah disebutkan tadi, yaitu jaringan infrastruktur; bangunan dan ruang terbuka, dimana dalam konteks ‘sekarang’ hubungan dan interaksi tersebut terus menerus meluas dan menciptakan ruang demi ruang kehidupan yang sama sekali baru, baik secara fisik maupun psikologis. Bahkan secara struktural dan hierarki pembentukan kota, bentuk ini ideal karena menggeneralisasi fungsi dan aturan yang ada sehingga seluruh bagian dapat berfungsi dengan baik dalam tingkatan yang sama dan mempunyai keunikan masing-masing, sesuai dengan bagian lingkungannya masing-masing (Lorenz, 2003).

Organic form sebagai bentukan kota ideal ‘sekarang’ merupakan sebuah pemenuhan yang terbaik bagi pola kehidupan masyarakat ‘sekarang’, dimana pergerakan sangat penting sehingga pemenuhan pengalaman kumpulan memori dalam menjalani fungsi hidup dan berkota saat ini hanya dapat dipenuhi dengan bergerak (moving).


Referensi

Abel, Chris (2004). Architecture, Technology, and Process. Oxford: Architectural Press.

De Certeau, Michel (2002). The Practice of Everyday Life.

Deleuze, Gilles (2000). Proust and Signs, The Complete Text. London: The Athlone Press.

London, Scott (2000). The Ideal City, (online), http://www.scottlondon.com/articles/idealcity.html

Lorenz, Wolfgang E. (2003). Fractals and Fractal Architecture (online), http://www.iemar.tuwien.ac.at/fractal_architecture/subpages/62Cityplanning.html#Cities%20and%20Fractal%20Geometry

United Nations Cyberschoolbus (2007). Habitat: The Ideal City (online), http://www.un.org/cyberschoolbus/habitat/ideal/ideal.asp

Wikipedia (2007).


>>back to table of contents

>>back to table of contents