Volume 2 No 1 (2008)
Bertamu: Melihat Kaitan Estetika dan Arsitektur
Fathur Rohman
Banyak pengalaman unik saat kita bertamu yang akhir-akhir ini saya sadari ternyata
mengandung kompleksitas dan berhubungan dengan apa yang saya pelajari di arsitektur.
Pengalaman-pengalaman yang pada awalnya menurut saya sepele dan tidak penting
kemudian pada akhirnya menjadi penjelasan yang menarik dan mudah dipahami dari
konsep arsitektur everyday. Salah satunya adalah untuk menjelaskan kaitan antara
arsitektur everyday dan estetika.
Pengalaman-pengalaman unik yang pernah saya alami diantaranya adalah saat kejadian bertamu di rumah sahabat saya. Di rumah ini saya tidak memasuki rumah dari pintu depan tetapi justru dari pintu samping, langsung memasuki area tengah. Di area ini saya bertemu dengan semua anggota keluarga yang sedang bersantai dan tidak siap menerima tamu. Ada yang sedang menonton televisi, tiduran atau melakukan obrolan tentang keluarga. Keanehan lain adalah kenyataan bahwa kemudian saya tetap dibawa ke area depan.
Perasaan pertama yang saya rasakan adalah perasaan tidak enak. Terasa ada sesuatu yang salah dan tidak seharusnya. Saya berpikir dalam hati bahwa sebagai tamu saya seharusnya tidak langsung dibawa ke area keluarga. Seharusnya ada jeda. Saya butuh waktu dan keluarganya pun seharusnya juga membutuhkan waktu yang sama untuk persiapan. Apalagi kalau ada pintu depan dan saya akhirnya memang akan dibawa ke area depan tersebut. Dalam pemikiran saya seharusnya saya juga masuk melalui pintu depan. Tidak memutar dulu yang mengesankan seolah-olah saya sebagai tamu yang datang dari dalam.
Pengalaman-pengalaman lain kemudian berlanjut saat saya harus ke kamar mandi atau makan. Perasaan-perasaan tidak nyaman tetap terjadi. Pemikiran ”ini seharusnya begini atau begitu” pun menjadi makin banyak muncul di benak saya.
Pengalaman ini kemudian menyadarkan saya bahwa ada aturan-aturan yang berlaku di rumah teman saya ini. Aturan-aturan itu terbentuk karena kebiasaan yang akhirnya menjadi pola. Aturan-aturan itu mungkin tidak disadari oleh mereka sebagai pihak yang menjalaninya, tetapi tidak bagi saya sebagai pihak luar. Inilah yang kemudian disebut oleh Henri Lefebvre sebagai everyday, seperti yang dikemukakannya dalam The Everyday and Everydayness:
The everyday is a product, the most general of product in an era where. Production engenders consumption and where consumption is manipulated by producers: not by workers but by manager and owners of the means of production (intellectual, instrumental, scientific). The everyday is therefore the most universal and the most unique condition, the most social and the most individuated, the most obvious and the best hidden. A condition stipulated for legibility of form, ordained by means functions inscribed within structures, he everyday constitutes the platform upon which the bureaucratic society of controlled consumerism is erected. (Lefebvre, 1997)
Dari kutipan di atas jelas bahwa everyday menjadi semacam nilai yang mengatur konsumsi atau perilaku. Everyday dapat menjadi kondisi yang sangat universal maupun sebaliknya, yakni kondisi yang sangat unik bagi kita yang bukan memproduksi everyday tersebut.
Yang kemudian menjadi menarik lagi dan terjadi pada saat seseorang bertamu adalah bagaimana seandainya everyday seseorang yang unik tersebut kita paksakan untuk juga dipakai orang lain yang pastinya juga mempunyai keunikan sendiri. Asumsinya tentu akan terjadi ketidaksesuaian - error. Ketidaksesuaian ini kemudian akan menimbulkan reaksi yang sangat beragam mulai dari kesalahpahaman, ketidaknyamanan, sekedar kebingungan, bahkan bukan tidak mungkin sampai ke konflik yang akan sulit dipercaya dan tidak terbayangkan sebelumnya. Semua reaksi ini tentunya akan dipengaruhi sejauh mana ketidaksesuaian tersebut dapat ditoleransi.
Error inilah yang saya rasakan sebagai suatu ketidaknyamanan yang saya uraikan di awal. Ketidaknyamanan ini terjadi mengingat saya yang mempunyai nilai sendiri kemudian harus menyesuaikan dengan nilai yang ada di rumah teman saya.
Penyesuaian ini bukanlah suatu hal yang mudah mengingat pasti ada penolakan-penolakan yang terjadi. Asumsi penolakan-penolakan ini mengarah pada saat sesuatu yang seharusnya tidak sesuai jika dilihat dari nilai tertentu kemudian dipaksakan harus sesuai, ataupun kondisi sebaliknya. Kalau kembali ke cerita awal, kondisi penolakan ini terjadi saat timbul pemikiran-pemikiran “seharusnya begini bukan begitu” atau “seharusnya begitu bukan begini”. Penolakan ini merupakan imbas dari seleksi yang dilakukan saat menilai sesuatu. Proses seleksi ini akan menerima yang dianggap sesuai dan sebaliknya menolak yang tidak sesuai.
Hal ini dijelaskan oleh Mark Cousins dalam uraiannya tentang the ugly. Yang tidak sesuai inilah yang akan dianggap sebagai the ugly object. “The ugly object is an object which is experienced both as being there and as something that should not be there. That is, the ugly object is an object which is in the wrong place” (Cousins, 1994:63). Yang kemudian posisinya dianggap salah tempat atau diibaratkan sebagai karat inilah yang kemudian menjadikannya menjadi sesuatu yang harus dihilangkan.
Bayangkan bila yang dilihat adalah definisi tentang keindahan. Yang terjadi adalah akan ada dua kelompok, yang sesuai dan yang tidak. Namun tentu tidak sesederhana itu. Prosesnya akan memerlukan banyak pertimbangan. Akan banyak kebingungan saat menentukan posisi yang kita lihat. Akan ada kemungkinan posisi di antara kedua kelompok (grey area). Tidak selesai hanya sampai disini, yang kemudian menjadi pertanyaan lagi adalah bagaimana pengelompokan kita saat dilihat dari nilai lain. Akan mungkin terjadi pemindahan posisi yang tadinya sesuai menjadi tidak, yang tadinya masuk kelompok tertentu mungkin justru menjadi di luar keduanya.
Setelah pengelompokan tersebut pun kita tetap akan punya pekerjaan lagi yakni menentukan sikap kita. Bagaimana nasib yang tidak sesuai ataupun nasib yang belum mempunyai posisi tertentu. Penentuan inilah yang akan menentukan akan menjadi seperti apa kita dengan yang kita lakukan tersebut. Akankah kita begitu saja menghilangkan atau menghancurkan yang tidak sesuai, dan begitu saja mengkategorikan tanpa pertanggungjawaban. Ataukah sebenarnya penghilangan tersebut tidak diperlukan, dan melakukan sedikit penyesuaian merupakan pilihan yang bijak.
Pembelajaran di sini adalah mengenai pentingnya nilai yang kita pakai dalam menilai, dan bagaimana posisi nilai ini melihat nilai lain. Hal ini menjadi penting mengingat di dalam melakukan perancangan arsitektur perancangan kita akan selalu selalu bersentuhan dengan hal ini.
Saat melakukan perancangan kita akan sama seperti tamu. Tamu adalah orang asing yang membawa nilai kemudian ingin mengintervensi nilai lain dengan nilai yang kita pegang. Kita memiliki pilihan, akan menjadi tamu yang seperti apa? Memaksa sepenuhnya tidak mau tahu nilai yang ada, mengikuti nilai yang ada tanpa melakukan intervensi, atau tetap melakukan intervensi dengan empati terhadap nilai yang ada.
Pilihan ketiga akan menjadi jawaban yang secara pribadi menurut saya paling menguntungkan. Enaknya menjadi seorang arsitek adalah kepuasan untuk berkuasa, menjadi penentu. Dan hal ini tidak ada salahnya menurut saya, karena siapa yang tidak suka akan kuasa? Namun tantangan lainya yang juga menyenangkan adalah mencari cara agar penentuan kita diterima dengan baik. Tidak terjadi penolakan, kecuali kita memang ingin terjadi penolakan tersebut. Sedangkan pilihan untuk hanya mengikuti akan menjadikan kita tidak mempunyai otoritas yang merupakan keistimewaan kita. Kita seolah mandul sebagai arsitek.
Oleh karena itu caranya haruslah elegan. Kita harus mencari celah dimana kita dapat memasukan ide-ide kita. Kita perlu melihat di bagian mana kita dapat bertoleransi; dapatkah indah menurut nilai kita juga sesuai dengan indah menurut nilai klien kita.
Mengingat kita hanyalah tamu yang berada dalam nilai orang, yang harus menyesuaikan tentunya kita dan bukan mereka. Untuk menyesuaikan akan sulit seandainya kita tidak tahu nilai seperti apa yang kita hadapi. Pemahaman akan nilai ini seperti yang saya urai diatas sangat erat dengan everyday. Karena sebenarnya everyday sendiri merupakan suatu nilai yang akan menjadi alat meyeleksi. Dalam hal ini jelas ada kaitan antara arsitektur everyday dengan estetika. Penentuan mana yang indah akan dilihat dari nilai everyday. Tiap orang akan melihatnya secara subjektif mengingat keunikan everyday.
Jadi sudah seharusnyalah karya arsitektur yang indah adalah karya arsitektur yang unik. Dia akan mampu menyesuaikan diri dengan nilai di tempat dia berada. Karena dengan kesesuaian ini tidak akan terjadi penolakan, sehingga kesesuaian ini akan menjadikannya abadi. Namun tentu bukan berarti sesuai mengandung arti kepasrahan kita menerima keadaan. Kita sebagai arsitek mempunyai kekuasaan untuk melakukan perubahan. Apalagi pada keadaan sekarang yang menurut saya butuh perubahan tersebut - tentunya perubahan menuju impian masa depan yang lebih baik. Dan kita dapat melakukan sesuatu untuk masa depan seperti apa yang kita inginkan. Namun sekali lagi dengan cara yang elegan agar perubahan ini berhasil.
Referensi
Lefebvre, H. (1997). The Everyday and
Everydayness. Dalam Harris, S. dan Berke, D. (Ed.), Architecture of the
Everyday. New York: Princeton Architectural Press.
Cousins, M. (1994).The Ugly.AA files, Autumn(28), pp. 61-64.