Volume 2 No 1 (2008)
Editorial
Bukan sebuah hal yang mudah untuk membahas apa yang disebut ‘ideal’ dalam arsitektur. Namun di lain pihak, tidak mudah pula bagi kita untuk melepaskan diri dari kenyataan adanya harapan dan upaya terus-menerus menuju sesuatu yang ‘ideal’. Tujuh tulisan dalam arsitektur.net edisi kali ini mencoba melempar berbagai pendapat, perdebatan maupun pertanyaan yang terkait dengan Gagasan ‘Ideal’ dalam Arsitektur.
Avianti Armand membuka wacana dengan memaparkan bahwa apa yang dianggap ‘ideal’ dalam arsitektur selalu terjebak dalam dikotomi kepentingan yang berbeda domain, sebagaimana ditemukannya dalam pengalaman berpraktek arsitektur. Gagasan ‘ideal’ juga tentunya tidak statis. Kristanti Dewi meyakini pentingnya mendefinisikan kembali gagasan sebuah kota yang ‘ideal’ untuk saat ‘sekarang’ yang perlu merespon pada kedinamisan kehidupan masyarakat ‘sekarang’.
Dua tulisan berikutnya mengangkat gagasan ideal sebagai sesuatu yang diangankan manusia dan tertuang dalam berbagai media. Cerita Alice in Wonderland diulas oleh Boris A. Situmeang sebagai sebuah kondisi ruang surealisme yang sama sekali tidak relevan dengan dunia nyata. Calosa membahas beberapa film yang merupakan cerminan fantasi manusia dalam ruang dan waktu, yang sekaligus mengantar kita untuk merefleksikan kembali realita ruang manusia.
Pembahasan gagasan ideal dalam arsitektur seringkali terkait dengan penilaian estetika dan kesesuaian, sehingga ‘ideal’ adalah paralel dengan indah dan sesuai. Fathur Rohman mencoba memparalelkan cara pandang estetika dalam arsitektur melalui pengalaman ‘bertamu’ dalam keseharian. Sementara itu Ramadana meyakini bahwa intervensi arsitektur, termasuk tindakan menuju estetika, hanyalah sebuah pilihan dalam menyelesaikan permasalahan. Pada akhirnya, sangat mungkin kondisi ‘ideal’ dapat ditemukan di dekat keseharian kita. Demikian pesan yang disampaikan tulisan penutup dari Paramita Atmodiwirjo tentang halte bis berpredikat ‘terbaik’ di Inggris yang merupakan sebuah intervensi arsitektur sederhana namun bermakna.
Apa yang dikemukakan dalam tujuh tulisan adalah sejumlah gagasan dan perdebatan, yang tentunya tidak mungkin melahirkan sebuah kesimpulan tentang gagasan ‘ideal’ dalam arsitektur. Sebaliknya, justru muncul pertanyaan lebih jauh tentang di mana ‘ideal’ dapat dicari atau ditemukan, atau bahkan sejauh mana ‘ideal’ perlu dibahas dan diterapkan dalam praktek berarsitektur. Benarkah praktek intervensi arsitektur yang kita lakukan selama ini merupakan upaya menuju sebuah kondisi yang ‘ideal’?
Selamat berwacana
dan mereka-reka tentang gagasan ’ideal’ dalam arsitektur kita.
Yandi Andri Yatmo & Paramita Atmodiwirjo
Editor