Volume 2 No 1 (2008)
Menjelajah Ruang dan Waktu dalam Film
Calosa
Kita hidup di dunia yang sudah sedemikian maju dengan teknologi yang akan terus
berkembang. Banyak peran-peran manusia yang telah tergantikan oleh kecanggihan
teknologi. Terjadi digitalisasi di mana-mana. Segala kecanggihan-kecanggihan yang
ada tidak dapat dipungkiri membantu memudahkan manusia dalam berbagai aspek walaupun
pasti memiliki dampak buruknya masing-masing. Salah satunya tentu saja masalah
komunikasi. Saat ini, manusia dapat saling berkomunikasi dengan sedemikian mudahnya
sehingga jarak bukanlah sesuatu yang penting lagi sekarang. Seolah dunia telah
terbagi menjadi dua, dunia virtual dan dunia fisik. Kita mungkin tidak dapat lagi
membedakan keduanya, karena keduanya saling terkait, dan batasan-batasannya semakin
tidak jelas. Sekarang semuanya terkait dengan networking. Dunia tersusun atas
jaringan-jaringan yang tidak terbatas yang dapat menghubungkan kita dengan apapun
di manapun.
Keberadaan dunia cyber ini terutama sangat mempengaruhi aspek komunikasi. Tidak hanya dalam artian komunikasi personal antar pribadi, tetapi juga komunikasi massal, yakni bagaimana mempengaruhi orang-orang, mempropagandakan sesuatu, memperkenalkan tren baru serta mempengaruhi cara berpikir masyarakat. Komunikasi menjadi sesuatu yang tidak terbatas dan bukan merupakan hambatan yang berarti. Media perantara untuk berkomunikasi pun tidak terbatas.
Salah satu media komunikasi yang dengan signifikan menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat adalah film. Film menjadi sarana menciptakan fantasi-fantasi dalam pikiran yang seakan menjadi nyata dengan peran aktor-aktor di dalamnya, lalu disajikan kepada masyarakat sebagai konsumsi untuk dinikmati. Film hadir tidak hanya untuk sekedar dinikmati namun juga dapat mempengaruhi cara berpikir masyarakat. Media film banyak digunakan untuk memperlihatkan fantasi-fantasi para futurist dengan menawarkan bentuk masa depan seperti yang mereka pikirkan. Di antara banyak fantasi yang ada, salah satu fantasi para futurist dan juga mungkin menjadi keinginan banyak manusia, adalah yang menyangkut dengan ruang dan waktu. Bagaimana manusia dapat menciptakan kondisi seperti yang mereka inginkan.
Salah satunya dapat kita lihat pada film Minority Report arahan sutradara Steven Spielberg. Di film ini kita dapat melihat bagaimana kota dalam visi penciptanya, yaitu kota pada tahun 2054. Sarana infrastruktur kota makin canggih dengan lalu lintas mobil-mobil futuristik yang melayang. Lalu terdapat satuan kepolisian Pre-Crime yang dapat mendeteksi tindak kriminal sebelum hal itu terjadi, yang merupakan inti dari cerita. Yaitu bagaimana manusia dapat memanipulasi kejadian-kejadian dalam waktu dan berusaha menciptakan kondisi yang paling menguntungkan dirinya.
Film-film lain yang juga membawa angan manusia untuk berpetualang melawan arus waktu adalah Back To The Future arahan Robert Zemeckis yang dirilis pada tahun 1985 serta The Butterfly Effect arahan Eric Bress dan J. Mackye Gruber yang dirilis pada tahun 2004. Kedua film ini bercerita tentang seorang tokoh yang hidup pada satu jaman, lalu menemukan cara untuk berpetualang ke masa lalu dan mengubah hal-hal di masa itu sehingga akhirnya secara otomatis mengubah masa depan.
Banyak sekali film-film serupa yang mengajak penontonnya berpikir kembali tentang perbedaan antara realitas dan pikiran dengan sedemikian rupa. Bagaimana pikiran manusia sedemikian kuatnya sehingga dapat menciptakan suatu realitas sendiri. Seperti dalam film dokumenter What The Bleep Do We Know? yang berbicara tentang fisika kuantum (the physics of possibilities): "In quantum physics we can always go back in time". Kita diajak untuk berpikir ulang tentang realitas di depan kita. Seperti salah satu kutipan dari film tersebut:
We all have a habit of thinking that everything around us is already a thing existing without my input, without my choice. You have to banish that kind of thinking. Instead, you really have to recognize that even the material world around us are nothing but possible movements of conciousness.
Cara pikir seperti ini terhadap realitas dalam dunia nyata kita mungkin dapat ditangkap seperti halnya ketika kita berhadapan dengan dunia cyber. Apakah segala yang ada di dunia cyber itu nyata? Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain di internet, apakah “manusia” di seberang sana nyata dan benar ada, atau itu hanyalah suatu realitas dalam pikiran kita yang sudah terbiasa secara tidak sadar mengatakan kalau memang benar “manusia” itu ada di sana serta dapat berkomunikasi dengan kita.
Salah satu film yang paling terkenal yang mengangkat dunia virtual menjadi tema utamanya tentu saja film The Matrix arahan Larry dan Andy Wachowski yang dirilis tahun 1999. Film ini memaparkan tentang masa depan di mana dunia kita adalah Matrix, suatu artificial reality yang diciptakan oleh mesin-mesin. Seakan si tokohnya beada di dua tempat dua ruang yang berbeda. Dua ruang itu hanya dihubungkan oleh steker dan kabel-kabel dan mesin-mesin. Ketika dia di satu dunia mati, maka dia di dunia lain juga mati. Mengutip lagi film What the Bleep do We Know?, seperti dalam quantum physics disebutkan:
When I talk about "we" disappearing I dont mean that we physically disappear. What I mean is that we move out of the area of the brain that has to do with our personality, that has to do with our association to people, our association to places, our association to things and time and events.”
Dunia film sebagai salah satu media komunikasi virtual dapat memberikan suatu pemikiran baru. Dunia virtual yang semakin berkembang membuat kita berpikir ulang tentang realitas, tentang ruang kita. Ruang yang sekarang menjadi sesuatu yang tidak terbatas.