Volume 1 No 2 (2007)

'Everyday Life' sebagai Pendekatan dalam Memahami Ruang

Setya Mariana


Bagi orang awam, kata everyday mungkin akan diterjemahkan atau diartikan menjadi ‘sehari-hari’ dengan munculnya kosakata-kosakata seperti ‘setiap hari’, ‘sering’, ‘berulang-ulang’, ‘rutinitas’, dan lain-lain. Dalam dunia filsafat, everyday adalah sesuatu yang lebih dari sekedar sehari-hari. Everyday merupakan sebuah konsep yang pertama kali dilontarkan oleh Henri Lefebvre, seorang filsuf dari Perancis. Lefebvre mengatakan bahwa: "The everyday life is the residue left over when all the specialized activities have been removed.”(Wigglesworth & Till, 1998).

Meskipun dilontarkan oleh ahli dari bidang filsafat, konsep everyday sangat berkaitan dengan pemahaman akan arsitektur dan urbanisme, pemahaman akan ruang serta hubungan antara sosial dengan keruangan yang terjadi di dalamnya. Bagaimana manusia berperilaku di dalam ruang, bagaimana manusia mendefinisikan sebuah ruang, dan lain-lain.

Disiplin ilmu arsitektur bukanlah ilmu yang hanya mempelajari dan berhubungan dengan lingkung bangun secara fisik saja. Lingkung bangun arsitektural yang erat kaitannya dengan keruangan tidak akan pernah terlepas dari aspek manusia sebagai subjek yang akan mengalami ruang melalui gerak dan fungsi panca indera mereka. Di sinilah terjadi interaksi. Interaksi antara manusia dengan sesama manusia, manusia dengan benda mati, manusia dengan alam, dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam ruang atau dalam suatu lingkungan terbangun itu terjadi hubungan sosial. Hubungan sosial dengan keruangan di suatu lingkungan terbangun bisa jadi berbeda dengan yang ada di lingkungan terbangun lain karena mungkin elemen-elemen keruangan dan elemen-elemen sosial di masing-masing lingkungan tersebut memiliki sifat dan karakter yang berbeda.

Memahami lingkungan adalah memahami bagaimana kehidupan sosial dan aspek keruangannya di dalamnya terstruktur. Kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dan hubungannya dengan keruangan di dalam ruang atau lingkungan terbangun tersebut akan menjadi inti yang harus dipelajari ketika seseorang atau sekelompok orang berusaha memahami ruang atau lingkungan terbangun tersebut.

Cara paling mudah untuk melihat (capture) suatu ruang atau lingkungan terbangun adalah dengan melihatnya secara denah atau tampak atas. Namun, pendekatan semacam ini menghasilkan pemahaman ruang atau lingkungan yang kurang mendalam karena kita hanya melihat dari satu sudut pandang saja. Kita hanya melihat tanpa mengetahui detail dan fenomena-fenomena yang terjadi di dalam ruang atau lingkungan terbangun yang ada di bawah sana.

Dengan demikian diperlukan sebuah pendekatan yang lebih membumi, efektif dan representatif dalam memahami sebuah ruang atau lingkungan terbangun. Caranya adalah dengan melihat ruang atau lingkungan terbangun tersebut dari dalam mereka sendiri. Kita harus terjun ke dalamnya, karena dari sudut pandang inilah kita bisa melihat kehidupan dan hubungan sosial-keruangan di ruang atau lingkungan tersebut secara nyata. "The everyday life perspective is a view from below, which ‘makes reality visible’, offering ‘new insight and possibilities for transcending the article gap between production and reproduction and to see the existence as a whole" (The Research Group of the New Everyday Life, 1991: 13).

Pendekatan everyday sebagai pendekatan yang lebih intim. Memahami everyday sebagai sesuatu yang akrab, familiar, dan identik dengan diri kita karena pada dasarnya kita berada dan hidup dalam everyday itu sendiri. ”The everyday was always there, and we, like anyone else, were always immersed in it” (Wigglesworth & Till, 1998: 7). Sesuatu akan menjadi akrab, intim, dan familiar karena ada hubungan atau pengalaman yang berlangsung secara berulang-ulang dan mendalam, sehingga sesuatu itu menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita bahkan mungkin sesuatu itu bisa menjadi identitas kita. Karena pengalaman bersifat personal maka dalam hal ini everyday bersifat sangat relatif karena interpretasi masing-masing orang terhadap satu hal yang sama bisa jadi berbeda-beda. Jadi, apa yang menjadi everyday bagi kita belum tentu merupakan everyday bagi orang lain.

Begitu pula interpretasi terhadap lingkungan. Orang yang berbeda menginterpretasikan lingkungan dengan cara yang berbeda, tergantung dan dipengaruhi oleh latar belakang (sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya) dan pengalaman hidup yang mereka miliki. Pemahaman orang akan lingkungan di sekitar mereka juga tidak bisa terjadi secara langsung, melainkan melalui proses interpretasi yang rumit meskipun mungkin mereka telah lama mengenal dan telah lama berada di lingkungan tersebut. Proses adaptasi yang bertahap tetap akan terjadi selama orang berada di suatu lingkungan. Namun, secara alamiah proses ini tidak tampak begitu rumit karena proses ini mengalir atau terjadi sejalan dengan kehidupan yang kita jalani sehari-hari dan juga pengalaman yang kita alami dalam keseharian. Melalui aktivitas hidup dan pengalaman sehari-hari baik secara keruangan maupun sosial, orang bisa mengenali lingkungan mereka baik lingkungan fisiknya maupun lingkungan nonfisiknya.

Meskipun berlangsung dalam ruang yang penuh dengan peraturan, everyday justru memperlihatkan kehidupan nyata dengan spontanitas, perbedaan dan ketidak teraturan/kekacauan di dalamnya. Aturan-aturan yang ada, terutama yang tidak sesuai dengan kebiasaan akan cenderung terabaikan bahkan dilanggar. Begitu juga dengan nilai estetika yang tidak harus tercermin dalam everyday life. Hal ini sangat berkaitan dan tergantung pada sense masing-masing orang terhadap aturan-aturan maupun nilai keindahan itu. Sebab, dari sense tersebut lahir penilaian yang sangat subyektif terhadap sesuatu yang nantinya akan berpengaruh pada klasifikasi everyday life mereka masing-masing. Ketidakteraturan/kekacauan inilah yang memperlihatkan bahwa konsep everyday cenderung untuk menentang rasionalitas.

Selanjutnya, apakah melalui arsitektur kita dapat mendesain hidup orang lain? Bagaimana kita mendesain hidup orang lain? Sebenarnya yang kita desain bukan hidup orang lain karena masing-masing orang punya kebiasaan tersendiri yang tidak bisa begitu saja kita ubah. Yang kita desain adalah ruang atau lingkungan untuk hidup orang lain. Setelah mempelajari dan memahami everyday masing-masing orang, kita bisa memperkirakan kebutuhan mereka dan dengan berdasarkan pada kebiasaan dan kebutuhan itu kita dapat mengetahui apa yang bisa didesain untuk wadah hidup mereka. Karena kita mendesain untuk orang lain yang telah kita ketahui kebiasaan dan kebutuhannya, kita dapat menerapkan sistem participatory design agar lebih optimal ketika memang dibutuhkan pekerjaan desain. Dengan melibatkan calon user dalam proses desain, apa yang nantinya dihasilkan akan lebih representatif, mencerminkan diri mereka dan sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.


Daftar Pustaka

Harris, S. dan Berke, D. (Ed.) (1997). Architecture of the Everyday. New York: Princeton Architectural Press.

Madanipour, A. (1996). Design of Urban Space.

Miles, M. (2000). The Uses of Decoration: Essays in the Architectural Everyday. West Sussex: John Wiley & Sons.

Wigglesworth, S. & Till, J. (1998). The Everyday and Architecture. Architectural Design.



>>back to table of contents

>>back to table of contents