Volume 1 No 1 (2007)
Book Review:
Architecture After Geometry
Utami Widyaningsih
Architecture After Geometry
Editor: Peter Davidson & Donald L. Bates
AD, 1997
Pertama membaca judulnya, yang terlintas dalam pikiran saya pasti buku ini banyak mengungkap tentang metode-metode baru dalam mendesain. Ternyata memang benar demikian. Namun, yang lebih menarik adalah di dalam buku itu menyebutkan beberapa fase tentang perkembangan pemikiran geometri ini. Sehingga muncul after geometry (1), after geometry (2) dan after geometry (3). Entah mengapa di bagi menjadi tiga, yang pasti saya mendapat kesimpulan bahwa orang-orang atau pun para arsitek terdahulu itu juga menggunakan geometri. Geometri seperti apa di zaman mereka itulah geometri yang dipandang kebanyakan orang sebagai kebalikan dari metode sekarang, atau geometri yang sempit persepsinya di banding sekarang.
Tapi melihat ketiga fase ini, saya lebih memandang bahwa geometri mengalami perkembangan seiring perkembangan zaman, yang dulu lebih tepatnya masih kurang, sekarang disempurnakan, yang dulu masih sekedar keteraturan yang di bahas, sekarang lebih dari itu. Geometri di sini sangat ditentukan sekali dari sudut pandang pemikir, semakin ke sini zamannya semakin banyak yang lebih tereksplor, bukan dahulu yang salah tapi sekarang lebih dilengkapi. sekarang orang berusaha mengungkap yang tidak teratur dan yang bebas. Oleh sebab itu geometri justru membebaskan.
Di dalam buku itu terungkap bahwa after geometry (1) salah satunya adalah: ”…geometry is the conceptual ordering which affirms its relevance in spite of the sensory world…. For architecture, geometry is measure, eidetic image and ordered system.”
Ini hanyalah beberapa penggal dari after geometry (1) yang bisa digarisbawahi. Pada fase after geometry (1) ini terlihat sekali bahwa geometri dibawa dengan tidak bebas, masih ada kungkungan atau batasan. Namun perlu dipahami bahwa keadaan masa itu memang sangat memungkinkan pemikiran yang masih dibatasi, misal oleh para raja-raja, tidak boleh membangkang atau masih banyaknya peperangan dan penindasan. Kebebasan manusia belum ada dan masih terikat pada peraturan. Seperti inilah geometri yang pertama.
Pada fase after geometry (2), salah satu kutipan yang penting diantaranya adalah: "Architecture is therefore certainly ‘after‘ geometry, both in pursuit of its ideal forms and in the institutionalization of its forms as ideals. Geometry is both ideal image and abstract order…”
Tentunya selangkah lebih maju dari after geometry (1), seperti bebasnya orang yang baru terlepas dari penjajahan, berani yang masih malu-malu, masih ada sedikit rasa takut, tetapi sudah memiliki semangat untuk terbebas serta sudah memiliki idealisme. Perkembangan geometri ini yang terlintas dalam pikiran saya juga tidak terlepas dari kondisi sosial pada zaman tersebut. Dalam membicarakan perkembangan geometri ini, saya mencoba mendekatkannya dengan sejarah, melihat bahwa geometri seperti apa yang dihasilkan sangat bergantung dengan kondisi juga yang terjadi pada saat itu seperti apa.
Pada fase after geometri (3): “The linkage of architecture and geometry is based on a transcendental imperative. To speculate ‘after’ geometry is to break that imperative and there fore evaporate this transcendentality. The ambition of these architectures ‘after geometry” lies in adoption and availability of new techniques and tactics of architectonic production, as well as a commitment against the transcendental imperatives which demarcate and delineate the architectural delta.”
After geometry (3) ini seperti ingin memperbaiki dari sebelumnya, ingin menghasilkan sesuatu yang baru. Zaman sekarang orang berpikir sudah bebas, tidak ada lagi belenggu. Justru yang ada perlawanan, aksi dan kontra. Oleh sebab itu muncul after geometry (3) yang lebih bisa bermain dengan bebas tanpa penghalang apa pun, bahkan kasarnya ingin menghancurkan yang sebelum-sebelumnya.
Jika dilihat perkembangannya satu persatu sayangnya ketiga fase ini berdiri sendiri-sendiri, sehingga terkesan bahwa fase (2) lebih baik dari fase (1), dan fase (3) lebih baik dari segalanya. Saya lebih suka menyebutnya melengkapi dari sebelumnya. Bila dahulu hanya menggunakan geometri yang sifatnya Euclidean saja, mengapa sekarang harus membaliknya menjadi yang non-Euclidean, dan mengapa bukan menggabungkan antar keduanya. Hal ini menurut saya juga yang masih terlihat seolah-olah yang baru menjadi sesuatu yang lebih benar. Padahal di dalam arsitektur tidak ada yang benar dan tidak ada juga yang salah.
Kembali lagi ke masalah persepsi tentang geometri yang sangat menentukan apakah ia membebaskan atau mengikat orang dalam mendesign. Bila kita memutuskan belajar atau menjadi seorang arsitek, saya pikir kita harus berani untuk sedalam-dalamnya menggali sesuatu apa yang tidak terpikir oleh orang lain, karena di dalam arsitek sendiri tidak ada batasannya untuk berkreasi. Oleh sebab itu pengertian dari geometri sendiri justru, harusnya dapat memberikan pandangan yang seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya.
Makna dari geometri ini dibahas oleh David Farrel Krell dalam A Malady of Chain, salah sebuah bab dalam Architecture After Geometry. Saya mencoba menyimpulkannya menurut pandangan saya pribadi. Tulisan ini banyak membahas mengenai ”the origin of geometry” dan ”geometry of origin”. Saya dapat menangkap bahwa pemutar balikan atau pencarian awal, asal mula, atau memfenomenologikan sesuatu itu dapat memberikan masukan, asupan baru, menyadarkan akan sesuatu yang bisa membahayakan dan dapat membuat arsitek untuk lebih hati-hati dan bijaksana dalam mengerjakan tugasnya sebagai perancang.
”Contemporary architect must work against the dictatorship of fundaments, foundations, technologies of measurement, universalities and idealities.” Jangan menjadikan sesuatu yang bisa membebaskan justru menjadikan belenggu dalam mendesign. Kutipan yang saya ambil adalah salah satu pesan untuk para arsitek pada masa depan, atau bahkan pada masa ini.
Menyambung sedikit dari after geometry tadi, bahwa kita jangan sampai terjebak dengan hal-hal dictatorship, fundamental dan sebagainya, seperti yang terjadi pada fase-fase after geometry (1) dan (2). Meskipun demikian kita juga jangan pernah merasa sudah benar dengan apa yang telah kita lakukan, karena nanti malah kita yang menjadi diktator bahkan bila kita sekarang telah sedang mencoba meggunakan metode baru. Jangan sampai membenarkan metode baru ini sudah benar, sebab akan berdampak pada seterusnya bahwa ini adalah benar, dan tidak membuka kesempatan yang lain. Pada akhirnya kita justru menjadi pembelenggu untuk orang lain dan secara tak sadar kejadian di tempo dulu terulang kembali. Saya melihat bahwa pada masa dahulu justru belenggu tersebut ditanamkan oleh para penguasa politik, yang berarti bukan dari arsiteknya. Namun kecenderungan sekarang menjadikan dictatorship justru bersumber dari para arsitek. Padahal, sekarang arsitek juga bukan penentu utama lagi, justru si pengguna design yang lebih memegang peranan penting di dalam arsitektur.
Tetapi yakinlah bahwa kita sedang berada pada jalur yang benar, bukan pada titik yang yang benar, sebab arsitek layaknya manusia yang tidak tau kepastian antara benar dan salah dan hal itu terus menerus dialami.
Tulisan Krell juga mengupas kalimat Husserl tentang the genealogy of geometry: “First, there is the primal situation of prehistorical, prescientific man kind, where there is no geometry, inasmuch as things are not mere physical bodies or condensations of mass, since they are part and parcel of human world. … Second, there is the protogeometric era, which comes with the discovery of (smooth) surfaces, (clean) edges, (sharp) corners, (clear) lines and (?) points. … Third, there is the age of technology, ushered in by technique of measurement.“
Ketiga silsilah ini sangat bermanfaat untuk pengetahuan para arsitek. Genealogy tahap pertama dan kedua ini sangat baik untuk diolah untuk menghasilkan geometri-geometri ‘baru’. Hal yang patut diwaspadai adalah silsilah ketiga. Menurut saya the age of technology itu adalah sebagai pelengkap dari desain seorang arsitek. Bila kita terlalu terlelap di dalamnya, kita akan menjadi kehilangan jati diri. Teknik measurement adalah bagian dalam sebuah fase geometri yang harus dimanfaatkan juga. Sebenarnya hanya sebuah teknik yang bisa memudahkan arsitek dalam proses pencapaian designnya. Tapi terkadang justru membuat arsitek terbelenggu kepada ukuran-ukuran yang harus pasti dan tepat.
Saya menyimpulkan bahwa geometri itu membebaskan seseorang dalam mendesain. Geometri di sini mengalami perluasan makna, Perluasan makna tersebut harus dialami. Bagaimanapun bila ada makna yang luas kenapa kita harus memilih makna yang sempit, pada akhirnya yang kita ingin hasilkan adalah sesuatu yang luas, tidak terbatas. Logikanya demikian. Bola bumi ini merupakan untaian dari geometri-geometri yang tidak dan belum terdefinisikan. Manusia perlu mengolah segala apa yang sudah ada di bumi dan mempelajarinya dan mungkin itu adalah geometri. Apa saja bisa menjadi geometri. Geometri menjadi tidak terbatas untuk didefinisikan. Ilmu sejarah, musik, agama, bahasa adalah geometri-geometri yang belum didefinisi. Begitu pula dengan pikiran yang ada di otak kita, merupakan geometri juga. Geometri sendiri tidak terbatas, oleh sebab itu sudah tentu ia membebaskan dalam mendesain, sebagai sumber inspirasi dalam desain.
A Malady of Chain merupakan sebuah cerita yang berusaha membebaskan kemerdekaan dan kebebasan apa yang telah kita miliki. Lebih tepatnya agar kita bisa membebaskan geometri, kita harus bijaksana dan hati-hati dalam menggunakannya. Jangan sampai terjebak pada kebebasan yang ternyata justru tidak membebaskan.