Volume 1 No 1 (2007)
Editorial
Selamat datang di edisi perdana arsitektur.net. Edisi ini mengangkat perdebatan tentang peran
Geometri dalam Arsitektur: Membebaskan atau Mengikat? Empat tulisan berargumen
bahwa geometri mengikat arsitektur dan empat tulisan lain meyakini bahwa
sesungguhnya geometri membebaskan arsitektur. Upaya mengangkat topik geometri
dalam wacana arsitektur mengandung tuntutan pemaknaan kembali ’geometri’ yang
lebih luas dari sekedar geometri Euclidean. Perluasan makna geometri ini tercermin jelas dalam
tulisan-tulisan di edisi ini. Topik geometri juga menjadi sebuah instrumen yang
membuka kesempatan penjelajahan hubungan antara teori, sejarah dan praktek
berarsitektur.
Widyanto Hartono membuka edisi ini dengan argumen bahwa geometri yang dimaknai secara luas merupakan sebuah upaya pembebasan ekspresi dalam pembentukan form arsitektur. Hardyanthony Wiratama mengambil posisi sebaliknya, dengan memandang kandungan aturan-aturan geometri yang bersifat mengikat dalam merealisasi bentuk arsitektur. Empat tulisan berikutnya memberikan pandangan tentang sejauh mana kebebasan maupun keterikatan yang ditawarkan geometri terhadap arsitektur. Anastasya Yolanda meyakini bahwa kebebasan tersebut terletak pada proses pencarian geometri yang dilandasi kebebasan berfikir yang berlangsung dalam diri manusia. Sementara Novelisa Sondang memandang bahwa dalam konteks latar belakang kebudayaan, geometri ternyata memberikan kebebasan dalam berbahasa arsitektur dan mengekspresikan keindahan. Boris Situmeang menguraikan peran geometri sebagai pengikat yang mematerialkan ruang dan sekaligus mendukung raga manusia dalam ruang. Widyarko meyakini bahwa terikatnya arsitektur pada geometri menjadikan proses pembentukan form yang terikat oleh berbagai force yang ada sehingga tidak mungkin perancangan berjalan terbalik.
Yosua Raja Saptama berupaya menguraikan perjalanan perkembangan geometri dan menyimpulkan bahwa telah terjadi upaya pembebasan yang terus-menerus dari waktu ke waktu. Muhamad Fakhri Aulia menutup rangkaian perdebatan dengan sebuah gagasan bahwa keterikatan arsitektur pada geometri perlu dimaknai sebagai tidak mungkinnya arsitektur untuk ’lari’ dari geometri – dalam pemaknaan geometri apapun, seperti yang telah terungkap dalam tulisan-tulisan sebelumnya.
Untuk melengkapi wacana tentang geometri, sebuah tulisan dari Utami Widyaningsih mencoba memberikan ulasan terhadap sejumlah gagasan yang dikemukakan dalam buku Architecture After Geometry. Ulasan ini sekaligus mengantarkan kita semua untuk merefleksikan berbagai upaya pembebasan ataupun pengikatan oleh geometri dalam arsitektur.
Tanpa berupaya mencapai konsesus apakah geometri membebaskan atau mengikat arsitektur, tulisan-tulisan dalam edisi ini mengajak pembaca untuk melakukan penjelajahan terhadap konsep geometri dan implikasinya - bukan hanya terhadap wujud material arsitektur, tetapi terhadap keseluruhan proses berarsitektur.
Yandi Andri Yatmo & Paramita Atmodiwirjo
Editor