Volume 1 No 1 (2007)
Kebebasan dalam Proses Pencarian Geometri
Anastasya Yolanda
Sebelum menguraikan lebih lanjut opini saya mengenai geometri yang membebaskan
arsitektur, saya ingin mencoba untuk menjabarkan terlebih dahulu tentang pengertian
geometri yang saya pahami sampai saat ini. Geometri merupakan dasar dari ilmu
pengetahuan yang memungkinkan manusia untuk membuat prediksi atas fisik dari dunia
ini, tentunya melalui serangkaian proses berfikir dan observasi. Geometri lebih
rinci menitikberatkan kajian pada properti dasar yang menyusun suatu objek geometri
itu. Properti dasar yang saya maksud antara lain titik, garis, dan objek dua dimensional.
Pengertian seperti ini yang terus saya pahami sampai akhirnya saya menemukan kutipan
pertanyaan Phaedrus kepada Socrates sebagai berikut:
Phaedrus questions Socrates,” Yes, Socrates, you can easily invent tales of Egypt, or of any other country. But even if it not of divine origin, the objects of geometry are not to be found in the physical world. They are pure abstractions, creations of the human mind.”
Makna terpenting dari kutipan di atas adalah ketika wujud fisik yang terlahir dari proses panjang pemikiran manusia tidak lagi merupakan satu-satunya cara menerjemahkan kata geometri. Saya beropini bahwa ketika manusia berkreasi dalam fikirannya, maka pada saat yang bersamaan mereka telah melahirkan geometri meskipun baru secara abstrak. Geometri abstrak inilah yang kemudian diterjemahkan kedalam goresan-goresan maupun objek tiga dimensional sehingga munculah wujud fisik dari geometri tersebut. Goresan maupun objek tiga dimensi hanya merupakan alat untuk mewakili konfigurasi geometri abstrak kedalam wujud nyata, begitu juga fikiran manusia yang menerjemahkan geometri kedalam wujud abstrak.
Cara manusia berfikir tentunya berbeda-beda dan sangat tidak terbatas. Arsitektur merupakan disiplin ilmu yang tentunya mengandalkan daya imajinasi yang tidak terbatas untuk menciptakan inovasi. Nilai terpenting dari sebuah karya arsitektur bukan hanya terletak pada fisik dari karya tersebut, melainkan yang juga sama pentingnya adalah proses pemikiran sampai tercetusnya ide hingga terealisasi dalam wujud nyata. Sebuah ide dapat muncul kapan saja, dimana saja, melalui media apa pun. Salah satunya melalui musik. Musik memiliki banyak komponen yang dapat menjadi inspirasi, mulai dari bunyi, irama, instrumen, sampai filosofi-filosofi lain yang salah satunya sebagai berikut:
John Cage wrote that music of the past was “dealing with conceptions and their communication, but the new music being create has nothing to do with the communication of concept, only to do with perception.”
Kutipan di atas mengandung makna serupa dengan karya arsitekur yaitu bahwa dalam dunia musik selalu berhubungan dengan konsepsi dan persepsi. Konsepsi dan persepsi inilah yang terus diasah dalam fikiran manusia sehingga wujud akhir bukan hal terpenting melainkan kualitas bunyi yang menjadi penting. Bunyi tercipta melalui pencarian, kemudian terwakili oleh alat yang wujudnya dapat terlihat dan teraba. Wujud muncul sebagai geometri nyata, tetapi proses pencarian, konsepsi, dan persepsi merupakan geometri secara abstrak. Serangkaian proses yang harus dilewati memberikan kebebasan kepada manusia untuk berkreasi.
Perkembangan dunia arsitektur yang melalui serangkaian proses tentunya ditandai oleh berbagai perubahan, antara lain perubahan cara pandang manusia seiring perkembangan zaman sehingga berpengaruh terhadap kebutuhan manusia itu sendiri. Pada masanya Vitruvius menulis sebagai berikut:
"The carpenter stretches a line, he marks it out with a pencil; he fashions it with planes, and marks it with a compass; he shapes it into the figure of a man, with the beauty of a man, to dwell in a house."
Pemahaman saya tentang kalimat di atas adalah tentang pentingnya kebutuhan manusia sebagai pertimbangan untuk menghasilkan suatu karya arsitektur, walaupun saat itu Vitruvius secara langsung menunjuk kepada objek sederhana. Pada masa itu, kebutuhan manusia lebih banyak menyinggung hal-hal kerohanian sehingga begitu banyak peninggalan yang menandai zaman tersebut, tentunya dengan metode dan bahan yang memungkinkan. Namun, saat ini kebutuhan manusia juga memiliki kompleksitas tersendiri. Oleh karena itu, ide manusia tentang kebutuhan juga dapat mengalami pergeseran. Perkembangan ide yang dahulunya sederhana menjadi kompleks ini memacu terciptanya teknologi-teknologi baru. Proses penggalian ide sampai menemukan solusi berupa teknologi juga merupakan penerjemahan saya terhadap kata geometri, meskipun lagi-lagi merupakan geometri secara abstrak.
Salah satu inovasi dalam teknologi adalah CCTV Headquaters, Beijing. Karya arsitektur yang satu ini tercipta dari pengembangan ide awal yang unik bertujuan sebagai simbol baru, tetapi bukan dengan cara menjulang tinggi melainkan beradaptasi dengan sekitarnya. Ide inilah yang memicu munculnya wujud akhir.
"Who says that structure should not be reinvented? . . . Who says that reinventing structure cannot be creative?" (Rem Koolhaas, diskusi di Tsinghua University, 5 August 2003).

Gambar 1. Inovasi teknologi struktur
Sumber: The ARUP Journal
Melalui inovasi teknologi dapat tercipta geometri-geometri unik yang dapat dinikmati oleh mata manusia. Akan tetapi, di balik fisik yang indah terdapat serangkaian proses panjang guna menghasilkan abstraksi wujud tersebut. Proses pencarian geometri yang bebas, yang dapat muncul setiap saat.
Berdasarkan uraian di atas saya dapat memahami bahwa arsitektur selalu berhubungan dengan geometri. Akan tetapi, geometri bukan hanya apa yang dapat terlihat, terdengar, dan teraba oleh indera kita. Lebih dari itu geometri juga secara tidak sadar terbawa dalam proses berfikir kita sehingga kebebasan berfikir setiap manusia juga menjadi pengertian dari kata geometri itu sendiri. Oleh sebab itu, saya beropini bahwa geometri dalam arsitektur memberikan kebebasan.
Referensi
Blanchard, W. (2006). News Beat. Canada: Sabian.
Bogolmolny, A. (2007). What is Geometry? http://www.cut-the-knot.org/whatis/whatisgeometry
Calter, P. (1998). Ad Quadratum, the Sacred Cut, & Roman Architecture. Dartmouth
College. http://www.dartmouth.edu/~matc/math5.geometry/unit7/unit7.html
Martin, E. (1994). Architecture as a Translation of Music. New York: Princeton
Architectural Press.
Palladio, A. (1998). The Four Books on Architecture. Cambridge/Massachusetts:
The MIT Press.
The ARUP Journal 2/2005. CCTV Headquaters, Beijing, China; Structural Engineering
Design and Approvals.